Jumat, 25 Desember 2009

I neglected my 3 musketeers so far

whe I went to Lamno, I was stopping by at Mie Leupung, then watching Kick Andy: some magnificent kids showed up their skills. One of kids named Alexander is son of M Ihwan (nickname is Wawan, my little brother's friend). He knows every single country in the oworld including its flag. The other kids; showing Hulahop dance, violin's music skill, and memory skill record.

To achieve this level, psychologist said "Parent should accompany their growth to explore their talent". This sugestions was felt "slapping" my face in fact I neglected my 3 musketeers so far.

Kamis, 24 Desember 2009

Cemburu tandanya cinta

Sendiri, tanpa keluarga di Aceh, membuatku tak "nyaman",.....kurang hiburan. Beberapa cara mengatasinya adalah nongkrong di warkop, sepedaan, jogging, main badminton dan jalan-jalan dengan teman-teman: agam maupun inong, tetapi kadangkala juga cuman berdua.

Sewaktu di Meulaboh. hampir tiap Sabtu dan Minggu pagi, aku dan seorang teman berjalan kaki dari kos di Jalan Sentosa menuju pantai Suak Ribee. Kongkow sambil minum kopi atau kelapa muda di pantai, sampai menjelang siang aru kembali jalan kaki menuju pulang. Atau singgah sebentar di Pasar Bina Usaha mencari ikan dan bumbu lainnya untuk keperluan masak-memasak di kos. Kami pernah juga jalan kaki berdua di Banda Aceh, dari Geuci - Neusu - Teuku Umar - Sudirman (Setui) lalu kembali lagi di Geuci.

Tatapi yang paling sering adalah nongkrong sambil minum kopi, ramai-ramai. Kopi di Aceh sungguh berbeda rasanya dengan kopi di tempat lain, yang selama ini aku pernah rasakan. Ada yang bilang itu karena dicampuri dengan "serbuk tambahan". Terlepas dari salah benarnya, kenyataanya memang enak, terutama di kedai-kedai kopi yang sudah punya nama. Suasana ngobrol dengan teman juga membuatku cukup kerasan mengatasi kesendirian.

Kadang-kadang (bahkan seringkali) teman-teman mengajak pul-kumpul di suatu tempat: bercanda dan foto-fotoan mengabadikan momen. Pernah menginap bareng di daerah pantai terpencil, naik sepeda tersesat di persawahan dan perbukitan, dan lebih seringnya ke tempat-tempat yang eksotis, pemandangan alam yang indah, karena sungguh amat indah negeri Aceh ini.

Aku sungguh menikmati kegiatan ini, dalam kesendirianku. Tidak ada pretensi dan tendensi apa-apa, utamnya terhadap "inong mameh". Apalagi Aceh menerapkan syariat Islam. Tujuannya hanya untuk sekedar persahabatan dan menghilangkan kejenuhan. Namun istriku yang jauh disana.......ternyata tidak, dia komplain berat! Sungguh selama ini aku tidak menyadari bahwa kesenanganku selama ini telah melukai perasaanku istriku. Ah.....cemburu memang tandanya cinta!

Jumat, 18 Desember 2009

lha.....ngono lho!


Jagoan ketigaku hampir berusia 2 tahun. Usia yang mulai merekam dan menirukan: tingkah laku dan ucapan orang-orang yang dilihatnya.

Pada suatu hari dia meminta minum air teh kepada neneknya. Biasanya sang nenek memberikan air teh dalam dua cara: dengan menuangnya ke dalam gelas atau ke dalam botol susu yang ada dot-nya. Kali ini sang nenek memilih jalan kedua. Ketika menuang ke dalam botol susunya, tidak seperti biasanya, kali ini dia berkomentar: “ Lha…..ngono lho!!!" (Ind: Nah…..gitu dong!!!). Dan tidak seperti biasanya juga, kali ini sang nenek terkejut dan tertawa. Ternyata, dia menirukan kalimat sang kakek!

Minggu, 15 November 2009

Renang di Banda Aceh

A dream come true......pertama kali dalam lima tahunku di Aceh, renang di sebuah kolam renang, tepatnya di Hermes Palace. Hari yang bersejarah dalam perjalananku di Aceh.

Sebelumnya aku pernah mencoba renang di sebuah cottage di Banda Aceh. Sore itu kami bertiga bersepeda menuju lokasi. Sebelumnya aku sudah membuat janji dengan boss kecilku, untuk berenang di tempat ia tinggal. Dianya oke, tak masalah. Maka meluncurlah kami ke tujuan. Begitu sampai di tujuan, dianya tidak ada di tempat. Sang Satpam tidak memberikan ijin, yang ini itulah, kayaknya minta uang rokok! Jauh-jauh bersepeda onthel, gagal total. Akhirnya kami menghibur diri ke tempat warung buah.

Beberapa minggu sebelum hari bersejarah itu, sebenarnya akupun sudah mendatangi tempat yang sama dua kali dalam sehari semalam. Kedatangan pertama, malam hari: kolam baru dibersihkan. Janjinya, esok pagi sudah bisa dipakai untuk berenang. Esok paginya kami datangi, masih juga belum dibersihkan: masih juga gagal!

Nah baru tadi pagi hari itulah, hari bersejarah itu tercipta. Aku puas dapat berenang di sebuah kolam renang, di hotel berbintang lagi. Lewat bantuan seorang teman, dimana temanku tersebut pinjam kartu keanggotaan dari temannya: aku dapat renang di Aceh, setelah hampir lima tahun tinggal di Aceh. Byurrrrrrrrrrrrrrr.....................

Rabu, 11 November 2009

LSM organisasinya, "orang" pelaksananya

Proyek air bersih yang aku tangani, cukup besar untuk ukuran sebuah LSM nasional, yang harus aku dampingi.

Di tingkat lapangan, manajemen pelaksana tidak bagus, koordinasi kurang, tidak mau menghargai rekan kerja, sok pinter, kayak yang lebih berpengalaman, merasa paling hebat. Pelaksana jalan sendiri-sendiri, kurang koordinasi.

Sampai pada suatu saat untuk mengetes kebocoran pipa: hampir tidak ada yang berhasil, alias bocor semua. Nah disinilah ketahuannya! Tiap kali sang bos pelaksana melakukan inspeksi di lapangan, tak pernah sekalipun mampir sejenak di tempat pengetesan, nanya-nanya ke pekerja, memberi solusi dan lain sebagainya. Di tingkat pekerja, mereka memang mengakui kalau waktu pengerjaan, mereka lengah dalam mengawasi, sehingga kebocoran banyak sekali. Dan para pekerja, tetap semangat untuk memperbaiki, dengan nyali tinggi!

Giliran pada suatu hari, menjelang iedul fitri, para pekerja bersiap untuk bercuti. Pekerja yang berdedikasi tersebut bilang kalau dia disuruh pulang dan tidak usah kembali. Aku kaget sekali, ada apa semua ini?

Dan.....setelah selesai iedul fitri, memang dia benar-benar tidak kembali. Kabar terakhir, dia sudah mengundurkan diri dari organisasi. Sedangkan sang Boss? Sungguh tega sekali dan tidak mau introspeksi.

Pulo Ie, jalan Meulaboh II, Kuala Pesisir Nagan Raya

Dusun ini merupakan bagian dari sebuah desa yang pusat pemerintahannya ada di seberang sungai, terpisah dari induknya. Warga rajin-rajin, suka bergotong royong, mau berkorban untuk kepentingan bersama.

Asesmen pertama, memverifikasi sebuah mesjid yang hampir roboh, balok dan kolomnya banyak retak digoyang gempa. Waktu itu warga mengusulkan penambahan keramik untuk lantai saja. Hasil verifikasi, saya tidak berani memberi bantuan keramik. Aku usulkan, untuk mengusulkan membongkar masjid tersebut dan membangun yang baru. Tidak perlu besar, kecil tak mengapa asal cukup untuk keseluruhan warga. Toh, warga satu dusun tidak begitu banyak. Karena proses begitu lama, aku siapkan bangunan sederhana terlebih dulu yang terbuat dari kayu. Soalnya mereka butuh bangunan sementara untuk sholat bersama, dan tempat mengaji anak-anak.

Manajemen menyetujui, gambar rencana dibuat, sosialisasi dilakukan. Intinya semua persiapan sudah dilakukan, tinggal pelaksanaan. Mendadak ada perubahan kebijakan dari manajemen, gambar rencana yang sudah disosialisasikan tidak jadi dilaksanakan. Diganti dengan gambar baru yang lebih kecil. Sebenarnya tidak layak sih, kalau dibandingkan dengan ukuran tanah yang tersedia. Aku terjepit, serba tidak enak. Alhamdulillah, warga menerima dengan sedikit keterpaksaan.

Aku masih merasa menyesal, tapi penyesalanku yang amat teramat dalam adalah karena aku tidak sampai menemani mereka membangun masjid tersebut sampai jadi, karena aku keburu ditawari pindah ke Banda Aceh.

Selasa, 10 November 2009

Pulo, Kuala Pesisir, Nagan Raya

Menurut cerita penduduk, saat tsunami, hanya seorang warga yang meninggal diterjang ombak besar tersebut. Desa lama hilang, menjadi pantai dan rawa. Diperlukan lahan baru untuk memindahkan seluruh warga desa ini.

Pemda Nagan Raya, menyediakan tanah untuk relokasi. Berupa hutan belantara, bertanah gambut. Perlu waktu lama, untuk menjadikan tempat tinggal baru bagi warga Pulo. Alhamdulillah, warga cukup sabar. Datang pertama ke lokasi, warga berkomentar: "Hutan lebat ini akan menjadi kampung kami?".

Pekerjaan tahap I: Pembersihan hutan, pakai cash for work. Setiap hari seluruh warga ditemani staf kami membabat pepohonan di hutan tersebut. Dengan upah Rp 45.000,- per hari mereka berusaha untuk membersihkan lahan tempat rumah baru mereka.

Pekerjaan tahap II: scrapping dan grubbing, memakai alat berat: excavator dibantu warga giliran gotong royong tiap hari 10 orang. Sisa tonggak pohon di tahap I dibersihkan lagi pada tahap ini. Kali ini kami hanya menyediakan uang makan saja, untuk sepuluh orang setiap harinya. Warga hanya bertugas membantu kelancaran kerja alat ini. Kalau ada ranting kecil yang perlu dipindahkan, tugas warga untuk membersihkannya.

Pekerjaan tahap III: Pembangunan rumah permanen dan infrastrukturnya: jalan, air bersih dan masjid kecil. Untuk menentukan petak tanah dan rumah, dilakukan pengundian
agar setiap warga mendapatkan perlakuan yang sama. Kebetulan memang petak tanah dari Pemda berluas sama, tipe rumah bantuan kami juga sama semuanya.

Akhirnya setelah menunggu 3 tahun, warga dapat menempati rumah permanen di tempat baru, yang dulunya adalah hutan lebat bergambut.

sedikit yang kurasa dari buah reformasi

Sudah lama aku ingin mempunyai PASPOR. Karena aku tinggal di desa, perlu tenaga ekstra jikalau aku mengurusnya di tempat tinggalku, Jawa Tengah. Mulai perjalanan 4 jam naik angkutan umum, perlu penginapan, dan perlu waktu berhari-hari, mungkin seminggu, atau bahkan lebih. Nah, karena saat sekarang aku tengah bekerja di ibukota propinsi, aku punya kesempatan bagus untuk itu, hanya butuh sedikit tenaga untuk mengurusnya.

Hari pertama: mendaftar, beli formulir Rp 15.000,-, pengisian langsung di tempat itu juga. Tidak lupa juga aku melampirkan 3 berkas yang sudah aku persiapkan dari rumah: foto kopi KTP, Kartu KK, dan ijasah. Setelah pengisian selesai, berkas diteliti oleh petugas. Ternyata masih ada tambahan: surat keterangan dari perusahaan tempat bekerja. Berkas tersebut bisa diserahkan bersamaan saat pengambilan pas foto, dua hari setelah pendaftaran.

Dua hari kemudian, saat pengambilan pas foto dan sidik jari. Namun sebelumnya ada sedikit wawancara dengan petugas berkaitan dengan pengisian berkas pendaftaran dua hari sebelumnya. Aku serahkan juga surat keterangan dari perusahaan yang diminta sebelumnya. Biaya yang diperlukan Rp. 275.000,-. Saat itu juga diinformasikan bahwa PASPOR akan selesai seminggu lagi.

Seminggu kemudian, aku datang. Datang pertama di pagi hari, petugas mengatakan belum selesai, sambil mempersilahkan untuk datang lagi jam 14.00 WIB. Datang kedua, jam 2 siang, benar memang PASPOR sudah jadi. Ketika memberikan PASPOR tersebut, aku diminta memfotocopy selembar untuk diserahkan kembai kepada petugas sebagai arsip. Aku tanya, apa di kantor ini tidak ada mesin foto copi (karena aku tahu tempat foto copy cukup jauh), dijawabnya mesinnya sedang rusak. Dengan terpaksa aku berjalan kaki cukup jauh, hanya untuk memfoto copy selembar PASPOR sebagai arsip!

Satu hal yang kurasakan saat mengurus PASPOR, pandangan dan pelayanan petugas saat melayaniku "berbeda" dengan pelayanan yang diberikan kepada orang lain. Apakah orang lain tersebut mengurusnya dengan sedikit "bantuan"?.

Senin, 09 November 2009

Cot Mue, Nagan Raya

Terletak persis di pesisir Samudera Indonesia. Tidak bisa membayangkan, betapa dahsyatnya tsunami yang terjadi di desa ini. Seluruh desa luluh lantak diterjangnya.

Pada saat itu ada wacana, relokasi tempat tinggal warga, karena sebaiknya perumahan dibangun berjarak yang cukup dari bibir pantai, untuk menghindari bahaya tsunami seandainya terjadi lagi. Maka disiapkanlah tanah oleh Pemerintah setempat untuk relokasi tersebut. Dan NGO kami berkomitmen untuk menyiapkan lahan tersebut untuk permukiman. Lahan dibersihkan, jalan akses masuk disiapkan. Sosialisasi dilakukan.

Gonjang-ganjing! Dalam perkembangannya, warga keberatan untuk relokasi, dengan pertimbangan: sekolah tidak ada, perubahan mata pencaharian; dari nelayan menjadi petani. Sesuatu yang sulit dilakukan. Terkatung-katung, molorrrrr.........hampir dua tahun.

Pada akhirnya, referendum warga dilakukan, dan hasilnya: warga memilih tetap tinggal di tempat yang lama! Dan dimulailah pekerjaan pembangunan rumah bantuan oleh NGO kami. Lancarkah....?


Tidak juga! Dalam pekerjaan konstruksi, perubahan dalam pelaksanaan adalah hal yang lazim. Setelah sebuah rumah contoh selesai dibangun, dilakukan evaluasi. Hasilnya: sebuah balok gantung yang tidak perlu bisa dibuang. Ketika hal tersebut disampaikan ke warga, warga menolak. Alasannya ? Sangat sepele: Rumah yang lainnya juga harus SAMA!

Teringat juga pada suatu ketika, di desa yang sama ini, Tim Pertanian akan memberikan sumbangan alat-alat pertanian. Hasil asesmen menunjukkan bahwa tidak seluruh warga mempunyai keahlian/pekerjaan sebagai petani. Ketika bantuan ini  ditawarkan pada musyawarah desa, warga meminta: satu warga diberi maka seluruhnya juga harus diberi! Terpaksa bantuan tidak jadi diberikan.

Kubang Gajah, Kuala Pesisir, Nagan Raya, NAD

Bandara Cut Nyak Dien, Nagan Raya, berlokasi di desa ini. Sebagian besar penduduknya keturunan suku Jawa. Hampir mirip desa-desa di daerah Banyumas.

Awal-awal pembangunan rumah permanen di sini, sungguh sulit. Penduduknya sangat kritis. Sampai-sampai KOmite Pembangunan bubar, gara-gara keluhannya tidak terpenuhi oleh organisasi kami.

Fase berikutnya, konyol! Sosialisasi yang kami laksanakan dengan menggunakan gambar yang salah. Kesalahan kecil memang, bentuk atap. Kemiringan atap yang seharusnya ke samping kiri dan kanan, tetapi di gambar menuju depan dan belakang. Padahal sebagian besar menyukai yang keliru ini. Celaka!

Alhamdulillah, dengan pendekatan permohonan maaf, akhirnya mereka mau menerima. Kami seringkali, saat inspeksi mendapatkan tawaran minum air kelapa muda gratis.

Satu hal yang sungguh sangat mengecewakan saya adalah ketidakberhasilan saya mengusahakan mebangun sebuah masjid untuk mereka. PAdahal dari awal, manajemen sudah setuju. Gak tahu kenapa, tiba-tiba saja manajemen membatalkan persertujuan tersebut. Sampai-sampai seorang panitia pembangunan masjid tersebut merajuk, tidak mau menempati rumah bantuan organisasi kami selama masjid tersebut belum terbangun.

Moga-moga saja, sekarang masjid tersebut sudah ada yang membangun, dan.....anggota panitia pembangunan masjid telah menempati rumah bantuan kami.

Ujong Drien, Meureubo, Aceh Barat

Rumah bantuan untuk korban tsunami siap untuk dibangun, setelah lebih dari setahun proses asesmen, verifikasi, dan sosialisasi. Syaratnya: 1) Tanah milik sendiri; 2) Rumah milik sendiri; 3) Ditinggali saat tsunami; 4) Rumahnya rusak berat. Beberapa galian pondasi telah dan sedang dikerjakan. Mendadak ada surat laporan, dua orang warga mendapatkan bantuan ganda, satu di Ujong Drien, satunya lagi di desa tetangganya.

Aku temui salah seorang warga tersebut,aku diskusi, dan memberinya kesempatan untuk memilih salah satu rumah saja, aku minta membuat pernyataan kewat surat. Beberapa hari menunggu tidak juga ada jawaban dari sang warga tersebut. Akhirnya aku stop pembangunan rumah tersebut, dengan alasan dia telah mendapatkan bantuan rumah di desa tetangga.

Sayangnya, Bapak Kepala Desa kembali meminta rumah tersebut untuk digantikan dengan warga lainnya. Digantikan orang lain? Kenapa orang lain tersebut kalau berhak mendapatkan rumah kok tidak tercantum dalam daftar kami. Kok bisa? Katanya hasil keputusan masyarakat. Aku tak kuasa menolaknya, pun demikian dengan organisasiku: juga telah menyetujuinya.

Minggu, 08 November 2009

Lamno, Kecamatan Jaya, Aceh Jaya

Sebuah wilayah yang dikelilingi bukit-bukit dan gunung-gunung, dan berhadapan langsung dengan Samudera Hindia. Malam hari udara terasa dingin menusuk tulang, kabut menutupi bukit dan gunung. Kota kecamatan yang cukup enak untuk tetirah.

Keindahan dan kenyamanan Lamno baru dapat kita nikmati jika kita bisa mematuhi kaidah "dimana bumi dipijak di situ langit dijunjung". Orang Lamno cenderung keras, mudah tersinggung dan bereaksi. Jika kita bertemu dengen mereka berilah salam serasa mengangkat tangan kanan, jangan pernah dengan tangan kiri! Hendaknya tidak memakai celana pendek di atas lutut, dan jika berlesehan: jangan selonjorkan kaki ke hadapan mereka. Hari kerja Kamis sampai dengan Rabu, tidak boleh bekerja di Hari Jumat. Di beberapa tempat, bekerja di hari Rabu akhir bulan, juga dilarang keras.

Kita dapat mendapatkan burung walet dan Udang karang di Ujung Seudheun, memancing ikan kolam di Panton Makmur dan Kampong Baro, dan menangkap udang di muara Gle Jong, sekitar Jembatan Mata Biru. Kalau ingin memancing ikan sungai lebih tepat di Kuala dan Teumareum. Ada juga yang mencari telur penyu di pesisir Kuala ini.

Satu setengah tahun aku di Lamno, begitu banyak kenangan yang kupetik. Saat mengerjakan proyek pengadaan jaringan air bersih dan sanitasi untuk 21 desa di Kecamatan Jaya (Lamno). Berkantor di Gle Putoh, tiap hari aku berkeliling di pelosok Lamno. Mulai dari Meudheun (di bawah Geurutee), Jambo MASi, belok ke kiri masuk Krueng Tunong, Ujong Seudheun, Kampong Baro, terus ke Gle Jong (Po Temerehom, Rumpit, Meunasah Tengoh, Meunasah Tutong, Meunasah Rayeuk dan sampai ke Ujungnya. Bali lagi Ke Babah dua, terus Kuala dan Teumareum.

Banda Aceh, berkesan #2

Komunitas Badminton. Selain untuk menjaga kesehatan, acara ini berfungsi untuk menambah persahabatan juga. Banyak teman-teman dari organisasi lain yang ikut bergabung dalam grup olah raga ini. Anggotanya kebanyakan adalah orang-orang rantau yang bekerja di di Aceh, sendirian, keluarganya ditinggalkan di daerah asalnya.

Di sinipun terlihat juga kebaikan hati teman-teman. Iuran bulanan, entah kurang entah tidak (saya sih yakin kalau kurang), tidak pernah sekalipun komplain untuk membuat addendum iuran. Tidak pernah sekalipun meminta untuk membayar iuran. Kita sendiri yang aktif membayar iuran di setiap awal bulan.

Dan....suatu ketika, seorang teman yang akan habis masa kontraknya, pulang kampung, berkata kepadaku:"Dua raket ini sebelumnya adalah pembelian dari kawan, saatnya akupun kembali berikan, kepadamu, untuk kamu pakai di latihan". Atau perkataan " gak usah beli, pakai aja bola cock saya!".

Seusai badminton, langsung cari minum atau makan siang, nongkrong, ngobrol rame-rame. Setelah rampung semua, giliran untuk bayar, kalau ada yang kelupaan bawa dompet, salah seorang teman cengan cepat akan berinisiatip membayarinya.

Banda Aceh, berkesan #1

Komunitas bersepeda ABC, memberiku banyak tambahan kawan. Ada yang benar-benar baru, ada yang sekedar bertemu kembali karena sebelumnya pernah satu atap sewaktu di Meulaboh. Waktu di Meulaboh, pemakai sepeda memang banyak, tapi tidak tegabung dalam sebuah komunitas. Ini berbeda dengan di Banda Aceh.

Hampir tiap hari Minggu, kami bersepeda melewati area-area baru, yang sebelumnya belum pernah aku kenal. Di perjalanan inilah kurasakan adanya "humanitarian worker" antar sesama teman, saling memberikan makanan dan minuman, bantuan tatkala ada kerusakan, bahkan pemberian barang yang sebenarnya sangat berharga. Dengan gampang dan ikhlasnya "teman-teman" ini saling berbantu dan bertolong-tolongan. take and give each other..

Hal lainnya adalah kompak dalam menentukan suatu kegiatan, saling mendukung demi suksesnya kegiatan tersebut. Meski dalam kesehariannya, saling ejek, saling maki dan saling meminta untuk ditraktir. Seringkali, bahkan, sudah memberikan barangnya duluan, padahal kita belum memintanya!

"SBY ini CD foto kegiatan kemarin, ambil aja! Aku udah ada kopinya kok".

Namun ada juga yang sesekali usil mengerjai. Yang tak akan kulupa adalah saat aku dikerjai diajak bersepeda. Bilangnya sih cuman muter-muter di dalam kota. Eeee tak tahunya: naik Mata Ie menuju Lhok Nga! Membuatku tertidur pulas di pantai Lhok nga saat beristirahat.

Rabu, 04 November 2009

Bicycle is my Life survival

Sepeda sudah menjadi bagian perjalanan hidupku semenjak dari kecil, life survival. Mungkin bagi banyak orang dia merupakan life style.

Di usia kelas 2 SD, aku sudah mengayuh sepeda, menjalani jalan berbatu dari Sedan menuju Narukan (10 km-an), Kragan, tempat pamanku tinggal. Berangkat bawa perut, pulang bawa beberapa buah degan (kelapa muda). Perjalanan pulang yang menyiksa, karena berkali-kali menggilas jalan berbatu, berkali-kali pula degan tersebut terjatuh, lepas ikatan atau putus talinya.

Usia SMP, selain tiap hari naik sepeda, aku pernah dengan teman-teman bersepeda menuju Lasem (25 km) pulang pergi hanya untuk berfoto, "pas foto" untuk kartu ujian. Hampir tiap akhir pekan, aku main ke rumah teman: Kedung ringin, Jambeyan, Gandri, Dadapan, Pacing, Ngulahan bahkan sampai ke daerah Kalipang, dekat Sarang.

Kala SMA, penuh memoria, karena berhasil "mengajak" teman jadi bersepeda, yang sebelumnya terbiasa naik sepeda motor.

Kuliah sarjana, aku sempat beli sepeda, tapi sayang tidak banyak berguna, karena banyak rusaknya. Cukup sesekali saja.

Kuliah S2, kembali aku pakai sepeda! Walau kali ini sepeda pinjaman adik, aku ckup bahagia.

Dan di Banda.......dengan sepeda kutemukan artinya: tidak sekedar alat perjuangan hidup semata!

Cicak vs Buaya

Di TV, ramai memperbincangkan pertikaian para penegak hukum di negeri ini. Dua orang yang berusaha mencekal terduga koruptor, ditahan dengan alasan penyalahgunaan wewenang. Belakangan dakwaanya diubah menjadi penerimaan suap, itupun juga tak kelar-kelar BAP-nya.

Di persidangan MK, jelas dan gamblang adanya skenario "pencorengan" penegakan hukum di negeri ini. Sang pemilik suara sudah mengakui, dan seluruh warga pun melihatnya, sangat telanjang!. Mulai dari skenario kriminalisasi, penyerahan upeti "duren", dan ancaman sampai mati. Namun sang penegak tidak juga menahannya, belum menemukan bukti awal, alasannya.

Dimanakah rasa keadilan ini...?

Esok pagi, ketika aku mengurus paspor di imigrasi, sebelum proses foto diri. Petugas administrasi menyatakan ada biaya sebesar Rp.280.000,-. Aku sodorkan uang Rp.300.000,-. Lalu dia memberiku kembalian Rp.15.000,- dengan tanpa kuitansi..................

Oh.........negeri ini...................???????

Wesel Pos

Dua kata, mungkin sangat aneh bagi anak-anak jaman sekarang. Tapi jaman kuliah dulu, tiap tanggal muda, di Pogung (JTS dulu), aku selalu mengecek daftar tersebut lewat jendela TU. Kadang dijadikan oleh teman-teman untuk menodong minta traktiran, ketika bilang " Weselmu wis teko!" Kiriman uang tercanggih saat itu ya "WESEL POS".

Suatu ketika, hampir tiap hari aku mengecek tulisan di jendela tersebut. Sudah menginjak bulan kedua, masih belum muncul juga. Karena sudah tidak "tahan", terpaksa aku pulang ke rumah di Sedan, Rembang, minta tambahan "gizi", dan setelahnya kembali ke jogja, bukti kiriman wesel dari orang tua aku bawa serta.

Aku urus di Kantor Pos Kampus, aku tunjukkan bukti kiriman. Valid, wesel sudah pernah singgah di Kantor Pos ini, dan sudah dikirimkan ke Fakultas Teknik. Kemudian aku cek di Fakultas, nah...............baru ketahuan: ternyata weselku dikirimkan ke Jurusan Teknik Mesin! Salah ekspedisi rupanya! Lega rasanya, tinggal nunggu waktu saja, sambil bersabar.

Memang benar, setelah beberapa waktu: tulisan "Sri Susilatama" tercantum di jendela TU.

Selasa, 03 November 2009

Sesal tiada guna

Waktu itu masih belum punya adik, bontot dari empat bersaudara, awal tahun ajaran baru di Kelas 3 SD. Aku merengek-rengek pada Ibu, minta uang untuk beli buku pelajaran.

Entah kenapa, tiba-tiba Bapakku datang memberiku uang sambil sedikit marah. Mungkin Beliau mendengar rengekanku, dan dengan terpaksa memenuhi keinginanku.

Di Pasar, aku mendapatkan buku keinginanku, Buku Pegangan Mata Pelajaran. Aku bawa pulang, membaca-bacanya. Senang hatiku saat itu. Terima kasih ya Pak!!!!

Pelajaran sesungguhnya dimulai, aku terkejut! Buku Pegangan ternyata telah diganti. Masya Allah..........

Sesal hatiku tiada guna. Maafkan anakmu Pak!

bermaksud membantu, malah membuat duka

Malam hari, belum ada penerangan listrik dari PLN waktu itu. Di sekolahku ada peringatan Maulid Nabi. Letaknya di belakang rumahku, tidak jauh, namun cukup gelap. Kalau tidak salah, akumasih duduk di kelas 1.

Usai acara Maulidnya, aku beraksud membantu Ibu, membawakan barang-barang perlengkapan konsumsi acara tersebut. Aku membawa se-ember gelas kaca. Tidak berat, tapi gampang pecah!

Di pertengahan jalan ke rumah, karena gelap, aku tidak membawa senter, hanya mengandalkan ketajaman mataku semata, aku tersandung seonggok akar pepohonan. Braakkkkkkkkk!!!!!! aku terjatuh! Aku coba meraba-raba gelas-gelas bawaanku yang berserakan. Beberapa kutemukan, sebagian besar sudah pecah, sedikit saja yang masih utuh.

Sesampaiku di rumah, aku merasa bersalah sekali.................walau ibuku tiada mempersoalkan gelas-gelasnya yang pecah.

aku hilang

Kelas dua SD, pulang sekolah aku langsung ikut temanku ke rumahnya, desa tetangga,berjalan kaki, tanpa memberitahu Bapak ibuku terlebih dulu. Jaraknya cuman 1 KM-an memang......

Dari pagi sampai sore hari, aku di rumahnya: bermain, mandi di sungai, termasuk makan siang dengan nasi jagung di rumahnya. Temanku satu ini memang menyenangkan. Anaknya pinter, tidak nakal, dan mau mengalah. Pokoknya membuatku betah main dengannya, seharianpun!

Petang hari beranjak. Akupun pulang, tetap dengan berjalan kaki, ke rumahku. "Kemana saja kamu seharian? Bapak, Ibu dan seluruh anggota keluarga mencarimu sampai putus asa!" Sapa Ibuku pertama kali begitu sesampaiku di rumah. Aku masih kecil saat itu, tidak tahu bagaimana perasaan orang tua kalau kehilangan anaknya.

Sekarang, karena aku sudah menjadi seorang ayah, barulah bisa merasakan bagaimana rasanya Bapak-Ibuku waktu itu..................... Maafkan aku Bapak.......Maafkan Aku Bu.........

Senin, 02 November 2009

mBah Kakung, Ayah keduaku

Sungguh bahagia jika kita mempunyai ayah yang sangat menyayangi kita. Apalagi tidak hanya seorang, tapi "dua" orang.

Waktu kecil dulu, aku mempunyai seorang saudara jauh, mBah Kakung, yang sangat menyayangiku. Aku sering diajaknya bepergian ke luar kota. Pernah, aku selama beberapa hari dengan beliau, di Blora, sendirian, tanpa kedua orang tuaku. Saat aku kecil mencapatkan kecelakaan, aku menjatuhkan lampu tempel (teplok) yang mengenai tepat di keningku, beliaulah yang menggendongku, mengantarkanku ke Pak Mantri Kesehatan.

Ketika aku dikhitan, waktu itu beliau sudah pindah ke luar kota, aku minta kepada kedua orang tuaku untuk mendatangkan beliau, supaya dia yang me"mangku"ku. Waktu itu, sara berkhitan, adalah dengan cara dipangku, dan dieksekusi oleh seorang yang dipanggil "Pak Calak". Beliau menyempatkan datang, hanya untuk me"mangku"ku.

Ketika aku kuliah, beliau berpindah lagi keluar kota, yang semakin jauh dari kotaku, yaitu di Ngawi. Pada suatu kesempatan liburan, dengan hanya berbekal nama beliau dan nama desanya, aku berangkat untuk mengunjungi beliau. Secara kebetulan, sekali lagi "kebetulan", aku menemukan beliau, karena belum pernah sekalipun aku sebelumnya pergi ke sana. Tempatnya pelosok, Ngrambe, Jogorogo, Ngawi. (Mungkin aku salah sebut, karena sudah lupa). Kutemukan beliau, sudah sangat tua, tapi alhamdulillah masih mengingatku. Sungguh senang hatiku, bisa bertemu kembali dengan orang yang sangat menyayangiku kala ku kecil.........

Sayang......itulah saat terakhir kalinya aku bertemu kembali dengan beliau, sampai sekarang. Semoga mBah Kakung bahagia di alam baka sana...........

Minggu, 01 November 2009

mengalir tapi tak hanyut


Pertama kali bergabung dengan yang namanya NGO ya di kota Meulaboh, Aceh Barat ini. Penampilan tidak penting, kejujuran dan pengabdian pada kemanusaiaanlah yang mejadi kunci. Pada saat itu adalah awal-awal jabatan Pak Susilo Bambang Yudhoyono memangku jabatannya yang pertama. Baru sekitar dua bulan, Aceh dilanda gempa dan tsunami.

Jadilah aku sebagai seorang tenaga kemanusiaan, di pesisir barat Aceh, Kabupaten Aceh Barat. Tiap kali datang di desa, orang-orang selalu memanggilku SBY, karena pada saat perkenalan aku memperkenalkan diriku sebagai "Susilo". Wah perlu akal nih, untuk mengakomodir memori orang desa ini. Akhirnya ketemu: "B"nya aku ganti dengan "Bukan", tidak lagi "B"nya sebagai"Bambang". Aku juga sedikit membetulkan singkatannya "eSBeYe" menjadi "eSBuYe", supaya kepanjangannya Susilo Bukan Yudoyono!.

Di tingkat Desa, kita harus bisa menempatkan diri kita, membiarkan diri kita mengalir seperti air. Kita akan sulit menentang aliran, lebih mudah mengikutinya sambil sesekali mengarahkan gerakan badan kita agar tidak 100% menjadi "terhanyut" di air.

Grantung, Bayan, Purworejo

Kuliah Kerja Nyata, tahap akhir penyelesaian gelar sarjana. Kami, dua orang cewek, dan tiga orang cowok, mendapatkan lokasi di Desa Grantung, Kecamatan Bayan, Kabupaten Purworejo. Persis di sebelah Barat Termina Purworejo sekarang ini.

Sebagai desa panghasil tahu, limbah cairnya sungguh sangat menggangu. Air sumurpun menjadi putih seperti santan air kelapa. Tiap hari, selama dua bulan, air itulah yang selalu membersihkan badanku, mengisi perut kedahaanku. Menu makan tiap hari selalu muncul "tahu' dalam berbagai variannya: oseng-oseng, semur, bacem, ataupun sekedar digoreng.

Anggota unit lainnya: Bayan, Besole, Bandung Kidul, Bandung rejo dan Dukuhrejo, kami dari enam desa ini lumayan kompak. Kegiatan di tingkat Kecamatan yang paling berkesan adalah: Pelatihan kerajinan pandan, bougenvilisasi pinggir jalan, lomba beberapa cabang olah raga, peresmian patung pak Ahmad Yani yang dihadiri seluruh anggota keluarganya dan Pasar murah. Dari kegiatan pasar murah, kami mendapatkan kelebihan dana. Sepakatlah, untuk kami gunakan berwisata.

Dengan mencarter 2 buah bus mini, kami berangkat ke Cilacap. Tujuan pertama adalah gunung Srandil, dengan latar obyek keindahan alam, laut dan gua. Sehabis itu kami naik kapal untuk mendekati pulau Nusakambangan, tempat narapidana kelas kakap ditahan.

Di akhir KKN, kami membuat juga kaos kenangan dan sebuah ALBUM.

Masa akhir kuliah yang sulit


Sungguh berat beban yang harus ditanggung Bapak-ibuku. Tidak mungkin aku akan bisa menyelesaikan kuliahku kalau tanpa ada altenatip pembiayaan lain. Apalagi di tahap akhir ini perlu tamabahan suntikan untuk pelaksanaan penelitian sebagai bahan skripsi. Alhamdulillah dengan segala usaha, aku dapatkan alternatip tersebut: Bea siswa Ikatan Dinas, dan Penelitian nebeng ke Penelitian Dosen.

Berat nian.....tapi akhirnya selesai juga dalam waktu lebih dari 6 (enam) tahun. Wisuda dihadiri keluarga dan calon isteri.

Bukannya kapok, aku kuliah lagi setelah 5 tahun bekerja, melanjutkan ke jenjang S2. Krisis ekonomi kala itu, aku memanfaatkan tabunganku. Daripada nganggur gak ada proyek, mending aku ngelanjutin kuliah. Tiga semester awal lancar, seluruh mata kuliah telah selesai. Giliran akan penelitian untuk thesis, bekal sudah habis.Wufffffff kesulitan yang harus segera aku tangani.

Terpaksa harus bekerja dan menabung kembali. Untung perekonomian sudah recovery, proyek sudah mulai bermunculan, dan aku mendapatkan posisi. Setelah dua kali ikut proyek, akhirnya aku mendapatkan bekal kembali. Dan.....thesis akhirnya dapat aku selesaikan, S2 memerlukan waktu 4 (empat) tahun. Wisuda dihadiri keluarga dan 2 orang jagoan kecil.

Terpesona, tersesat dan terjebak


Akhir tahun 2009, akhir tahun kebersamaan para pekerja kemanusiaan di Serambi Mekah. Kami berempat, keliling-keliling Aceh, sebagai acara perpisahan.

Pagi hari yang cerah, berempat, menaiki dua "kereta". Jantho, Aceh Besar, merupakan tujuan pertama. Kami menuju ke sebuah dam irigasi. Udara masih terasa dinginnya, hijau masih kelihatan di setiap bukitnya, Subhanallah....., TERPESONA aku melihatnya.

Berikutnya, setelah lewat Seulimun, kami menuju ke arah Lampanah. Di sepanjang jalan, kami masih bisa menikmati keindahan alamnya. Tapi, gerimis mulai menyirami jalan yang aku lewati. Gerimis kadang menjelma menjadi hujan. Walau memakai jas hujan, baju dan celana tetap saja menjadi basah karenanya. Sementara matahari mulai menuju ke peristirahatanya, kami tak juga menemukan jalan menuju ke Banda. Lewat sebuah kompleks militer, kami diperiksa, kamera di dalam tas tak luput dari investigasinya. Sang tentara bilang ini adalah daerah GAJAH KENG, sangat terkenal keseramannya sewaktu konflik menimpa. Kami ditunjukkannya jalan pulang menuju Banda.

Waktu sudah menjelang maghrib. Kami masih tetap muter-muter saja, belum menemukan jalan sesungquhnya. Tibalah kami di tepi pantai, tapi kok berada di sisi kiri, seharusnya kalau jalannya benar, pantainya berada di sisi kanan! Kami TERSESAT.

Setelah beberapa kali bertanya, akhirnya kami sampai juga di Daerah Krueng Raya, jam 9 malam. Hujan masih juga menerpa. Kami berhenti sejenak, makan dan minum di sebuah kedai, di dekat Pelabuhan Malahayati. Hujan semakin membesar! Bahkan tak lama berselang, banyak warga berlarian di jalan membawa anggota keluarga untuk mengungsi di tempat yang aman. Ooooo banjir rupanya, kami TERJEBAK.

Setelah menunggu beberapa lama, dan sedikit memberanikan diri melewati derasnya aliran air, Alhamdulillah sampai juga kami di Banda, jam 12 malam lebih kurangnya!

Tamparan kasih sayang


Cuaca memang sangat panas kala itu, sehabis pulang sekolah dari SMPN Sedan, aku tinggal sandal sepatuku sembarangan.

Bapak pulang dari mengajar, kepanasan juga tentunya. Ditambah lagi, mungkin, persoalan di sekolahan. Panas, emosinya memuncak tatkala melihat sandal sepatu yang ditaruh sembarangan. Diambilnya sandal sepatu tersebut, dan ditamparkannya di pipi kiriku. Prakkkkkk!!! Aku merasakan nyeri di pipi. Aku salah. Semenjak saat itu, aku mulai berlatih mendisiplinkan diri, menaruh segala sesuatu pada tempatnya.

Bapakku memang keras. Pernah suatu ketika, kakak-kakakku bertengkar. Lalu masing-masing diberinya tongkat satu-satu, dan disuruhnya untuk melanjutkan pertengkaran agar lebih seru. Mereka berdua urung, tak jadi bertengkar.

Tapi, kekerasan hatinya diselingi dengan kasih sayang terhadap anak-anaknya. Membuatkan alat permainan, mengajak latihan badminton, catur, melatih menggambar, dan....mengajariku cara naik EGRANG. Satu hal yang tak kan pernah kulupa adalah takala aku lolos dari SIPENMARU. Sehari setalah pengumuman, aku diberi uang untuk membeli sepatu baru guna persiapan untuk menjadi seorang mahasiswa baru. Padahal sebelumnya: tidak pernah sekalipun memberiku uang, tanpa aku minta sebelumnya!

Jumat, 30 Oktober 2009

Bangga terhadap teman-teman IIIA1

Perasaan, perjalanan hidupku mengalir begitu saja. mudah dan mulus. Mulai dari SD, SMP sampai SMA, tidak ada itu ketakutan akan tidak lulus dan tidak naik kelas. Demikian juga terhadap EBTANAS! Sekarang sudah berganti nama menjadi UAN.

Teman-teman di A1, boleh kubilang merupakan kumpulan dari orang-orang hebat dari tiap kecamatan di Rembang. Bahkan ada juga yang dari kabupaten tetangga. Semua berkumpul di kelas ini. Hebat, sedikit nakal tapi tidak ada yang kelewat batas. Hasil EBTANAS, terbaik di tingkat kabupaten. Entah mengapa akupun merasa tidak sulit mengerjakan soal-soalnya. Jika dibandingkan dengan saat sekarang, banyak ketakutan terhadap UAN. Apa soal yang sekarang begitu sangat sulitnya ya?

Habis EBTANAS, tibalah saatnya, yang aku sendiripun merasa takut menghadapinya: SIPENMARU! Banyak teman-teman yang bersiap menghadapinya dengan ikut Bimbingan tes. Tentu saja dengan harga yang cukup mahal. Sedangkan aku, tidak ada biaya untuk itu, cukup beli buku latihan soal-soal dan belajar sendiri.

Saat tiba pengumuman hasil SIPENMARU, betapa terkejutnya aku: namaku lolos, demikian juga dengan sebagaian besar teman-temanku. Kalau tidak salah. hanya 3 orang dari 26 siswa A1 yang tidak lolos! Selamat! Aku bangga terhadap teman-teman! Sujud syukur (untuk pertama kalinya) pun aku tunaikan kehadapan-Nya! Alhamdulillah..........................

Cinta Pertama

Kelas III A1, jurusan ilmu-ilmu fisika, aku pindah ke tempat kost yang baru. Lingkungan yang dipenuhi cewek-cewek nan ayu. Mulalah cerita hari biru.........

Kali ini keberanian hatiku tak dapat kepertahankan. Salah satu cewek nan ayu, telah membuatku memulai kisah cinta nan biru. Namun di sisi lain, ada satu cewek ayu juga menaruh pandang kepadaku. Sungguh! Aku nggak GR! Lewat sepucuk surat, cinta pertamaku tertanggap. Dan mulailah perjalanan itu, Cinta pertama yang cukup sederhana. Sayang cuman tak berapa lama.

Lulus SMA aku ke Jogja, sementara dia kemana-mana: Nganjuk, Kediri, Wonogiri dan entah mana lagi, aku terlupa. Kekangenan dengan obat via surat, tak akan cukup. Pernah kukejar ke Wonogiri, eeeee sudah pindah ke Kediri. Ku kejar ke Kediri, dari alamat yang satu kutemukan di alamat yang kedua. Capek deh...............

Akhirnya tibalah satu keputusan: Putus dengan baik-baik. Pun ketika aku terima undangan pernikahan darinya, aku hadir dengan didampingi (calon) istriku tercinta........

Cinta Pertama tak kan terlupa, lewat begitu saja!

Cinta Monyet

Kelas III SMP, wajahku sudah mulai jerawatan, suaraku berubah warnanya, dan kumis tipis dah mulai bermunculan. Pertumbuhan fisik kedewasaanku tidak disertai dengan keberanian hati.

Ada gemetaran dan ketakutan tiap kaliku bertemu, berpapasan dengan salah seorang adik kelasku, yang sebenarnya masih ada kekerabatan. Jantungku berdetak keras, tapi keberanianku turun di titik nadir kerendahan. Cinta monyet keparat, harus aku sikat agar tidak mendekat. Aku alihkan hasrat tersebut pada kegiatan olah raga. Demikian seterusnya hasrat tersebut berjalan, sampai di SMA kelas III, walau si dia juga meneruskan di SMA yang sama, tapi sudah mulai aus hasrat yang kurasa kepadanya.

Kini aku sudah menemukan cinta yang berbeda, tapi aku masih sering bertemu dengannya. Cuma......, kali ini si dia yang tak kuasa! Tiap kali bersua, secepat mungkin dia berusaha menghindar bertemu dengan saya!

Kamis, 29 Oktober 2009

Kesel...leo saat masih di SMP

Pagi hari itu, udara cerah, aku dan teman-teman keluar dari ruang kelas IIIA dengan ceria, karena saatnya mata pelajaran olah raga (pendidikan jasmani).

Saat menunggu Pak Guru Olah Raganya tiba di lapangan, aku bermain-main dengan teman-teman, Ada yang kejar-kejaran, timpluk-timplukan, dan ada pula yang sekedar saling mengejek saja. Sedangkan kau dengan seoran teman bercanda dengan bermain "pathol" atau gulat. Sial bagiku, aku terjatuh dengan cara yang salah, sehingga: engsel tumit kakiku keseleo! Saat itujuga aku tidak dapat berdiri, sehinga aku langsung diantar pulang ke rumah. Tibalah masa kelam itu! Selama dua minggu aku tidak bisa masuk sekolah. Pada minggu ketiga, aku paksakan masuk sekolah dengan bantuan tongkat kayu, terpincang-pincang........

Ada temanku yang baik hati, tiap pagi menjemputku untuk memboncengkanku berangkat ke sekolah. Pulang sekolahpun setia menungguku, untuk mengantarkanku pulang ke rumah. Tapi.....kesedihanku masih teramat dalam karena di saat-saat itu kurasa prestasiku menurun..........

Ahamdulillah .........kakiku kini sudah bisa sembuh, hanya satu kesedihanku: temanku yang baik hati dulu itu telah berubah 180 derajat!

Nyaris buta sebelah


Badminton adalah olah raga kesukaanku. Saat di Meulaboh, aku dan teman-teman CRS menyewa lapangan di DIKLAT, di daerah Lapang, untuk latihan bersama.

Pada suatu malam saat latihan, aku mendapatkan musibah. Mata sebelah kiriku kena shuttle cock, hasil hujaman smash dari lawan tandingku. Seketika itu juga penglihatan sebelah kiriku langsung kabur. Seperti ada selaput yang menutupi tepat di retina mataku. Aku sangat-sangat khawatir, jangan-jangan mata kiriku akan menjadi buta! Ya Allah.......lindungilah aku!

Hari pertama setelah meusibah itu, aku belum sempat periksa ke dokter spesialis mata. Alhamdulillah, kalau posisiku berdiri mata kiriku normal. Tetapi tiap kali aku membungkukkan badan, pandangan mata kiriku kembali tertutup selimut. Astaghfirullah......

Periksa ke dokter spesialis mata (pada saat yang bersamaan ada pasien yang matanya tertancap paku!), mendapatkan kabar baik. Retina saya tidak rusak, cuman memar saja. Untuk memulihkannya, perlu istirahat seminggu dengan tidak boleh membungkukkan badan! Subhanallah....., aku turuti petunjuk dokter tersebut, badanku selalu tegak: tidur dengan posisi duduk, sholat dengan posisi duduk, segala kegiatan posisi badanku selalu tegak. Hasilnya mataku sembuh.

Alhamdulillah ya Allah........karuniaMu terlalu besar dibandingkan syukurku kepadaMu!

Rabu, 28 Oktober 2009

kenangan pahit di JAMNAS

Kena sial! Pas giliranku jaga tenda, ada permainan besar dalam JAMNAS 81. Karena jaga, aku tak dapat turut serta. Permainannya adalah setiap peserta harus membentuk satu regu yang beranggotakan sekitar 10 orang dari propinsi yang berbeda. Tujuannya untuk menjalin persahabatan.

Setiap peserta JAMNAS diberi satu buku kegiatan, yang di akhir kegiatan JAMNAS, dapat dijadikan bukti untuk mendapatkan Tanda Kecakapan Khusus. Karena saat itu waktuku untuk jaga, maka Buku kegiatanku aku titipkan ketua regu untuk mendapatkan tanda tangan. Entah kenapa, sewaktu selesai kegiatan, Ketua reguku bilang, Buku Kegiatanku dipinjamkan kepada peserta dari Timor Timur (waktu itu), yang tak dikenali identitasnya.

Celaka!!!!

Benar, setelah dicari-cari sana-sini di kontingen Timor Timur, bukuku tetap tidak ketemu. Laporlah saya ke Pimpinanan Kontingen Tingkat KWARDA. Alhamdulillah, akhirnya aku mendaptkan ganti, meski dihukum: membersihkan lapangan selama setengah hari!

taktik jitu

Aku, kelas 5 SD, mau berangkat JAMNAS 81 di Cibubur, Jakarta, sendirian! Memang sih berangkatnya rame-rame satu tim di Kabupaten, gabungan dari murid-murid dari 14 kecamatan di Rembang.

Sebelumnya selama kurang lebih 6 bulan aku sudah dilatih di tingkat Kabupaten. Setiap hari minggu aku harus berangkat sendirian ke kota naik angkutan umum, berjarak kurang lebih 40 km, sendirian. Tidak ada yang menanggung ongkos kegiatanku selama 6 bulan tersebut, selain Bapakku.

Dua - tiga hari menjelang keberangkatan, aku disiapkan satu buku dan ballpoint.Disuruhnya aku berpakaian Pramuka lengkap. Kemudian disuruh menghadap MUSPIKA, dan pejabat penting di tingkat kecamatan lainnya, agar bapak-bapak tersebut memberikan sekedar "catatan pesan" di bukuku tersebut selama aku mengikuti jambore nasional Alamaaaakkkkkkkk, efeknya sungguh rRruarrrr biasa! tak sekedar catatan yang kudapat, tapi juga uang saku!

Terima kasih bapak-bapak...............dan Bapakku!

jadi ikut bersepeda

SMA N Rembang. Semenjak kelas I aku selalu naik sepeda (biker) pergi-pulang ke sekolah. Banyak juga siswa kelas I lainnya yang juga bersepedaan. Begitu naik ke Kelas IIA1, banyak bikers yang menjadi teman satu kelas. Dan.....A1 adalah "best of the best"nya. Paling ramai adalah sewaktu pulang sekolah, karena semuanya pulang bersamaan. Kami bisa bercanda tawa sambil bersepeda kala pulang. Asik dan seru kalau dilihat orang.

Jadilah kami dan teman-teman di IIA1 menjadi "bintang dan biker". Tiap kami pulang, ramai bersepedaan, ramai bercanda dan menjadi pandangan orang.

Tetangga kost (kebetulan cewek) yang biasanya naik sepeda motor, eeee ikutan ganti bersepeda. Tak tanggung-tangung: sepeda adiknya yang dia pakai untuk berangkat ke SMA. Sekarang kalau berangkat ada teman!

Aku menangis


Pekerjaan memisahkanku dengan keluarga yang sangat aku cintai. Untungnya tiap tiga bulan, ada cuti selama dua minggu (R and R, Rest and Relaxation) bagi staf untuk kunjungan keluarga. Sebenarnya tiga minggupun belum cukup untuk melepas rindu dengan keluarga, apalagi cuman dua minggu!

Entah kenapa, awal-awal kedatanganku di rumah saat R&R, bawaanku marah-marah terus! Emosi tidak stabil. Suatu ketika anakku yang kedua (waktu itu umur 4 tahunan, belum punya adik), aku marahi. Gara-garanya sepele: mematikan komputer PC tanpa di"shut down", hanya dipejet saklar koneksi listriknya.

Menjelang sehari keberangkatanku balik ke tempat kerja, aku mendampingi dia main komputer lagi. Saat mengakhiri main komputernya, kali ini dia mematikan dengan cara men"shut down", sambil berkata "Bapak nggak marah lagi kan?".Aku trenyuh.......dan tak terasa jatuh air mataku.......lalu kudekap dia, sambil tak kuasa menahan haru. Ya Allah, tak bisakah engkau memanjangkan hari ini menjadi 'seminggu' lagi, agar aku masih bisa berkumpul dengan anak-anak tercintaku ini??????????

Selasa, 27 Oktober 2009

Pacet oh pacet!

Lamno, hutan dan gunungnya masih terhitung perawan. Dalam kegiatan keseharianku pada proyek pengadaan air bersih di 24 desa, mewajibkanku untuk hampir setiap minggu, naik ke bukit dimana sumber air berada. Ada tiga sumber airnya: Meudheun, Lambaro dan Buebuem di Teumareum.

Di balik kecantikan alamnya, Lamno memberiku kenangan yang tak kan mungkin kulupa: GIGITAN PACET! Setiap kali menaiki ketiga sumber air tersebut, hampir selalu aku dan teman-teman kena gigitan pacet. Untunglah sederhana cara melepaskannya, cukup dengan diberi air tembakau. Kebanyakan juga, tahu-tahu kakiku berdarah bekas gigitan pacet tersebut, karena begitu mereka kenyang darah akan melepaskan diri.

Yang membuatku takut dan merinding adalah pacet tersebut kadanag-kadang hadir di tempat tinggalku yang terbuat dari rumah knock down bantuan dari Palang Merah untuk tempat tinggal sementara bagi korban tsunami. Tak bisa kubayangkan seandainya pacet tersebut menggigitku dikala aku tidur, dan memilih di anggota badanku yang vital: MATA!

eh ada namaku

Walau aku ada di Aceh lima tehun terakhir ini, tapi namaku dicantumkan dalam sebuah laporan di


http://www.pmu-binamarga.com/upload/proyek_doc/1_RDSC-1 20MPR 20No. 2027 20- 20March 2009.pdf

Keberuntungan

Aku merasakan, keberuntungan selalu berada tak jauh dari diriku.

Sewaktu aku kelas 5 SD, ikut Jambore Nasional 1981, banyak peserta yang ingin mengikuti kegiatan kedirgantaraan. Alasannya: ingin merasakan naik pesawat terbang! Meski hanya naik sebuah Hercules. Salah satunya adalah aku. Karena pesertanya banyak sekali, diadakanlah seleksi. Caranya sederhana: semua peserta berbaris berhadap-hadapan, lalu diadakan "sut"(istilah jawa). Keberuntunganku: 5 (lima) kali "sut" aku menang terus! Jadilah aku naik pesawat pertama kalinya, walau hanya di pesawat hercules.

SIPENMARU, Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru, aku juga merasa dikarunia keberuntungan. Aku lolos, walau aku merasa soal-soalnya sulit sekali. Lebih dari itu, karena aku tidak iktu Bimbingan Tes sama sekali, sementara teman-teman banyak yang mengikutinya. Sujud Syukur pertama kali-ku.....demi keberuntunganku ini.

Wonogiri....kota yang tak pernah aku singgahi. Aku nekad melangkahkan kaki demi mencari kekasih hati. Begitu turun dari bus antar kota yang aku tumpangi, aku bertanya pada penghuni sebuah rumah, menanyakan tempat tinggal sang kekasih hati. Dasar keberuntunganku: penghuni rumah menjawab "Rumahnya ada di belakang rumah ini!"

Bea siswa Ikatan Dinas

Menginjak tahun ketiga kuliahku, ada pengumuman seleksi bea siswa ikatan dinas dari suatu perusahaan. IP-ku sebagai prasyarat masih masuk dalam batas bawah, aku berhak untuk turut mencoba. Setelah beberapa kali proses seleksi, aku akhirnya dinyatakan diterima. Alhamdulillah ya Allah, aku telah Kau karuniai keberuntungan.

Kiriman bulanan dari ORTU, langsung aku stop. Betapa keras perjuangan kedua ORTU-ku untuk membiayaiku dan saudara-saudaraku. Bapak yang hanya seorang guru SD, tak akan cukup kalau mengandalkan gaji. Ibuku (orang yang paling baik sedunia) membantu dengan jalan membuat kue kering untuk dititipkan kepada penjual di sekolah belakang rumah.

Aku turut berprihatin dengan cara indekost, tapi masak sendiri. Cukup masak nasi, sayur dan lauknya beli. Ke kampus jalan kaki dan pakai sepeda sekali-kali. Jika aku pulang mudik ke rumah Sedan, Ibuku selalu membawakanku lauk kering, yang tahan berhari-hari, agar aku bisa menghemat dan tak usah beli.

Bea siswa, sungguh sangat berarti. Andai aku tak mendapatkannya, mungkin aku tak jadi seperti ini..............

Pertemuan setelah penolakan #2

Pekerjaan baru, membawaku ke kota Bandung. Kurang lebih 3 (bulan) bekerja di perusahaan ini, terjadi pergantian di pucuk pimpinan, Direksi. Salah satu Direksi baru adalah dulunya Manajer SDM yang menolakku menjadi pegawai di perusahaan yang telah memberiku Ikatan Dinas.

Pada Suatu hari, aku dianggil oleh Kepala Cabangku, menanyakan bahwasanya Direktur baru itu rasanya pernah mengenalku, tapi entah dimana. Lalu kuceritakan semua cerita kelabuku tersebut kepada Kepala Cabang, apa adanya!

Dan pada suatu kesempatan, ketika aku bertemu langsung dengan Direktur baru tersebut, aku mengaku juga perihal masa laluku.

Pertemuan setelah penolakan #1

Aku ingat betul prosesnya! Setelah lulus sarjana, aku melaporkan diri kepada perusahaan yang telah memberiku ikatan dinas selama dua tahun lebih. Mungkin aku akan putus kuliah di tengah jalan seandainya tanpa bea siswa ikatan dinas ini. Karena laporan pertama via surat tidak tertanggapi, aku terpaksa Setor wajah ke kantor pusat, waktu itu akhir tahun 1993. Setelah beberapa kali mendatangi kantor akhirnya aku bertemu dengan Manajer SDM-nya. Keputusannya jelas: mulai Januari 1994, aku harus masuk di Biro Operasi. Setelah mencari tempat kos, aku balik pulang ke Sedan, Rembang terlebih dulu.

Setelah beberapa hari di rumah, aku kaget bukan kepalang: ada surat dari perusahaan tersebut yang memintaku melakukan tes rekrutmen di Jakarta. Wah ini salah besar pikirku, karena aku telahmendapatkankepastian dari sang manajer SDM-nya langsung! Aku akan tetap pegang omongannya, untuk berangkat di awal tahun depan.

Tahun baru 1994, aku semalaman di bus menuju kota Jakarta untuk mulai mengukir perjalanan hidupku. Esok paginya, pertama kali aku ngantor di perusahaan. Eeee tak tahunya aku disuruh ikut tes lagi. Dan.....hasilnya: aku dinyatakan tidak cocok untuk bekerja di perusahaan tersebut. Ya sudah, toh aku sudah diberi bea siswa selama lebih dari 2 (dua) tahun. Akupun sangat berterima kasih telah dibantu menyelesaikan kuliahku. Aku harus memulai lagi, mencari pekerjaan sebagai pengganti..........

Senin, 26 Oktober 2009

aSEPpE tidak aDA


Sejak kecil aku sudah terbiasa naik sepeda. Mulai dari SD, SMP, SMA, kulias S1, S2, sampai saat bekerja sekarang ini. Sayangnya sepeda ksayanganku hilang dicuri saat ku masih SD. Kenangan di SMP, aku kecelakaan naik sepeda dengan menabrak tebok sampai "garpu' sepedaku bengkok. Paling parah dan menyakitkan adalah sewaktu aku masih di SMA. Saat liburan semesteran tiba, aku pulang dari Rembang menuju ke C2N dengan naik sepeda. Jarak yang harus kutempuh kurang lebih 30 KM, sendirian.

Waktu itu kondisi jalan masih jelek, banyak lubang di sana sini. Sat tba di puncak tanjakan yang berbelok, aku ditabrak sepeda motor dari belakang. Mungkin untuk menghindari lubang, sepeda motor tersebut mengorbankanku dengan cara menabrak. Yang mengejutkan: pengemudinya adalah temanku sewaktu SMP. Sepedaku rusak parah, tak bisa kukayuh kembali. Temanku berjanji akan kembali menjemputku, setelah dia terlebih dulu memperbaiki sepeda motornya yang hanya menderita kerusakan kecil..........Kusempatkan tuk menunggunya. Lamaaaaaaaaaa tiada muncul, terpaksa aku panggul sepedaku sambil jalan mencari tempar reparasi. Di tengah jalan, beruntung ada orang yang berbaik hati memboncengkanku, sambil tetap kupanggul sepeda, sampai di tempat reparasi.

Akhirnya, setelah menunggu beberapa lama, aku dapat meneruskan perjalananku untuk pulang ke rumah. Sampai sekarang ku tak pernah lagi bertemu dengan teman yang telah menabrak dan meninggalkanku tersebut. Andai bertemu..........?

Isteriku.......


Betapa jahatnya aku, membiarkanmu merawat anak-anakku sendirian selalu. Sementara aku? Hampir tidak pernah menemani mereka melewati waktu demi waktu. Begitu tulus pengorbananmu untuk anak-anaku.

Maafkan aku ....!

Penginnya aku kerja tidak jauh-jauh darimu. Agar bisa berbagi waktu dengan anak-anakku, anak-anak kita. Tahun pertama ku meninggalkanmu, di Surabaya, lalu di Ujung Pandang, Saat itu kau melahirkan anak pertamaku, tanpa ku mendampingimu. Anak keduaku, aku tengah di Madiun-Maospati, pun tak bisa menemanimu. Apalagi putera ketigaku, aku masih di Lamno, tak mungkin juga mendampingimu. Kesendirianmu.....masih juga di ini waktu!

Sehingga........
tiada alasan ku mengkhianatimu,
tiada alasan untuk tidak selalu membahagiakanmu!

engkau bukan yang pertama, tapi pasti yang terakhir........
di cintamu, kutemui arti hidupku,,,,,,,,,,

minimal tidak mengganggu, syukur bisa memperindah, apalagi kalau bermanfaat


Di dunia tidak ada orang yang sebaik hati selain almarhumah IBUKU. Masih teringat di benakku, setiap kali panen buah di halaman, dikelompok-kelompokkannya buah tersebut untuk dibagi-bagikan kepada tetangga. Demikian pula sayur di kebun, kalau ada tetangga yang lewat, ditawarinya untuk memetik. Pernah suatu ketika, aku punya tas, yang sebenarnya aku masih memerlukannya, eeee diberikannya kepada kerabat.

Berpijak dari perilaku ibu, aku, sang putera ibu, akan selalu berusaha dimanapun juga untuk tidak mengganggu kepada orang di kiri-kananku. Apalagi jika keberadaanku bisa memperindah suasana bahkan membawa guna bagi mereka. Aku berusaha untuk itu!

Ibu, satu penyesalanku, saat itu aku hendak balik merantau, Engkau bekali aku, namun entah mengapa ketika itu aku tak mau. Dan mulai detik itu......aku tak lagi bisa menyaksikan kebaikanmu. Aku tak keburu untuk menyaksikanmu kembalike hadapan Rabb-Mu. Maafkan daku Buu..........

Dont put a monkey on your shoulder


Maksud hati menolong teman, curiga sang juragan karena penilaian........

Secara rutin, setiap enam bulan adalah saatnya untuk pengisian performance evaluation. Jatahku, kunilai: ada yang jelek dan ada yang baik. Saat maju ke penilaian juragan, dia berkomentar terhadap salah satu yang menurutku baik. Komentarnya: "Why you put a monkey on your shoulder, Susilo?".

Penilaianku terhadap dia, sebenarnya masihbisa menjadi baik, asal dengan pengarahan dan ketelatenan. Emosinya labil, terlalu banyak masalah yang dihadapinya. Alhamdulillah, selama dia denganku, emosinya terkendali, prestasinya meningkat. Beberapa saat kemudian aku terpaksa meninggalkannya, karena medapatkan penugasan di tempat yang berbeda.

Selang beberapa lama, betapa tekejutku mendengar berita: DIA DI-PHK!

Minggu, 25 Oktober 2009

Satu setengah tahun di Lamno

Mendampingi LSM nasional dalam implementasi program pengadaan air bersih, memberiku banyak pengalaman: engineering, capacity building dan human chemistry touching.

Sehari-hari tinggal di temporary shelter, di desa Gle Putoh, desa yang kami layani sejumlah 24 desa, dengan 3 (tiga) sumber air. Sumber pertama di desa Meudhen, untuk melayani Meudhen, Sapek, Jambo Masi, Krueng Tunong, Ujong Seudhen, Kampong Baru, Panton Makmur, Meulintheng, Gle Jong, Nusa, Rumpet, Darat, Meukhan, Meunasah Tutong, Meunasah Tengoh, Meunasah Rayeuk, Babah Dua, Alue Mi, dan Ujong Muloh. Sumber kedua di Gle Putoh, untuk Gle Putoh, Lamtui dan Lambaro. Sumber ketiga di Teumareum, untuk Teumareum dan Kuala.

Adat istiadat dan budaya setempat wajib untuk selalu diberi hormat. Di Lamno, jangan: bekerja di hari Jumat, hari Rabu di akhir bulan, bercelana pendek, memberi salam dengan mengangkat tangan sebelah kiri dan..................menjulurkan kaki di depan orang saat duduk lesehan!

Kalau hendak bekerja di Lamno, bawa asisten (sopir) orang setempat, supaya AMAN TERKENDALI.

Buka Usaha, Masalah#2


Permasalahan rasanya selalu muncul terus. Beres satu muncul kedua, ketiga dan seterusnya. Tuhan sudah mengatur segalanya, dikasihnya kita masalah, agar kita menjadi: sabar, tabah, ulet dan tidak pantang menyerah.

Pemasangan listrik sudah kelar, sekarang waktunya pasang alat dan aksesoriesnya, kemudian dilanjutkan dengan mencobanya. Pada titik ini, aku sudah sangat senang bukan kepalang. Terlintas di benakku segala keindahan atas mimpi-mimpi yang selama ini mengiringiku.

Begitu mau dinyalakan, eeeeeeeeee voltase tidak kuat. Masalah lagi! Tapi masih bisa diatasi dengan pengadaan stabilizer. Beli lagi! Waduhhhhh modal cekakku terkuras habis. tapi apa mau dikata, sekali melangkah pantang surut ke belakang.

Stabilizer dah oke, tinggal nyoba alatnya. Ada saja! Interfacenya tidak jalan. Yaa ......terpaksa nunggu dan masih harus bersabar lagi: sampai sekarang!

Buka Usaha, Masalah #1

Setelah merasakan sebagai kuli di salah satu BUMN beberapa lama, merasakan ketidakenakan sebagai bawahan: pindah kesana kemari, dimaki karena emang salah ataupun karena berbeda pandanan dengan atasan; pada saat itu terlintas di benakku untuk membuka usaha sendiri. Lebih baik menjadi seorang raja kecil daripada menjadi seorang MENTERI DI NEGARA BESAR!

Alhamdulillah kepulanganku dari Aceh setelah bergabung dari sebuah NGO, mendapatkan pesangon yang lumayan, bisa untuk modal usaha. Aku mendapatkan dukungan pula dari adik kandungku, yang kebetulan juga mengalami hal yang sama sepertiku: PHK.

Setelah persiapan secukupnya, jadilah! Kebetulan juga, tetanggaku ada yang baru membangun 3 (tiga) buah toko. Aku minta untuk kusewa, diberikan. Kayaknya lancar nih, pikirku dalam hati. Tetapi ternyata tidak! Hidup adalah penghadapan pada masalah, yang dengannya Tuhan menjadikan kita: sabar, ulet, tahan banting....dan tak kenal meyerah.

Masalah pertama: alat! Alat yang baru tidak ada, kalaupun ada harganya sanga-sangat tidak terjangkau olehku. Penyelesaiannya: alat lama dengan rekondisi. Alhadulillah, semoga tidak bermasalah ke depannya.

Masalah kedua: Listrik! Pihak penyedia bilang: masuk waiting list dulu! Waiting list selesai: dibilangin nunggu PILPRES selesai! PILPRES selesai, gantian: ada pergantian manajemen. Lalu alasan: trafo terdekat tidak kuat. Setelah hampir tiga bulan kujalani, akhirnya terpasang juga

Minggu, 19 Juli 2009

Back to Banda Aceh

.........mendapatkan suatu tawaran yang tidak perlu menawar lagi: 100% Billing rate, pemondokan dan makan; adalah kesempatan yang langka, maka berangkatlah aku untuk kali yang kedua di Banda Aceh ni......Asal tahu Cara Enak Hidup.........

Memang sih, statusku sudah resign dari perusahaan ini, tetapi entah mengapa kok aku diajak bergabung untuk menangani proyek pengawasan lanjutan pembangunan pelabuhan samudera lampulo tahap iii. Pada saat yang bersamaan, sebenarnya aku juga mendapat awaran untuk brangkat ke Kupang. Aku bukanlah tipe orang yang suka memilih-milih pekerjaan. Asal cocok dan pasti, aku akan segera menentukan pilihan. Tawaran ke Banda Aceh lebih cepat datangnya, dan aku segera putuskan memilihnya.

Aku ajak bergabung pula beberapa temanku yang sebelumnya bekerja bersama: dari tim Meulaboh dan dari tim Banda Aceh. Aku bersyukur bisa membantu beberapa orang teman lamaku........

Senin, 25 Mei 2009

Girap-girap

Tadi malam, entah kenapa, anak ketigaku saat tidur, terbangun dan rewel menangis tiada henti-hentinya. Tidak Biasa!!! Biasanya, kalaupun sakit, dia cuman meringik sesenggukan. Cukup dengan digendong, dia akan berhenti merengek.
Sedangkan tadi malam, dia sunguh rewel luar biasa. Tiap kali digendong dan diajakkeluar dari kamar, dia selalu minta kembali ke dalam kamar. Tetapi, begitu di dalam kamar dia akan menangis keras-keras sambil merangkul mama-nya. Ketakutan!!!
Alhamdulillah berkat doa bapak ustadz, dan diberi minum air yang sudah diberi doa, dia bisa tidur pulas sampai pagi. Subhanallah........., Alhamdulillah.......!!!!!!!!!!

Senin, 04 Mei 2009

Kejutan dari si kecil


Hari itu aku mendadak medapatkan sebuha kejutan dari jagoan terkecilku.

Biasanya kalau si kecil minta susu, aku selalu minta sun pipi ki-ka dan cuuppp! Siang itu tanpa saya duga, si kecil minta susu dan tanpa saya duga dia langsung mencium pipi ki-ka dan cuuppp di mulut saya. Alhamdulillah, anugerah dari Allah, semoga si kecilku menjadi anak yang cerdas dan berbakti kelak....

Senin, 20 April 2009

PILEG yang membuat pilek

Kita sudah belajar dari sejarah: bahwa kita tidak pernah dapat belajar dari sejarah! 1. Pilpres kemarin dg lawan yang sama kalah, eeeee masih mau maju lagi. 2. PILLEG kemarin amburadul TI-nya, sekarang apalagi! 3. PARPOL kalah, Pengurusnya saling menyalahkan

Sabtu, 18 April 2009

aku masih belum ada apa-apanya

Menjumpai teman sewaktu SMA, dulunya dia anak nakal sampai menjelang lulus arsiteknya. Mendadak berubah 180 derajat, cara hidup dan pandanganya.

Dia sempatkan untuk berdakwah 1,5 bulan di atara 12 bulan setiap tahunnya. Dia tinggalkan anak dan istrinya, bekal uang dari sebagian harta perolehan mata pencahariannya, untuk pergi ke suatu daerah, menyebarkan dakwah demi agamanya.

Kesederhanaan hidupnya, membawanya tiada beban dalam menatap kerasnya kehidupan, karena setiap insan sudah diatur kadarnya dari sang Tuhan, tinggal kita yang harus tetap mengusahakan.

Sedangkan aku...? Tidak ada apa-apanya...........

Minggu, 12 April 2009

Best than better


I hope better my third child will be a daughter, but Allah SWT give me the BEST; all of my three children are sons.

Sabtu, 11 April 2009

koq bisa ya,,,?

Koq bisa ya...? Selama hampir 4 tahun saya tinggal di Aceh, tapi nama saya (ataukah nama orang lain yang kebetulan sama) muncul di laporan ini:

http://pmu-binamarga.com/upload/proyek_doc/1_RDSC-1 MPR No. 22 - October 2008.pdf

Consultancy Services
For Regional Design and Supervision Consultants
(RDSC) Team-1 Second Eastern Indonesia Region Transport Project
(EIRTP-2) Under IBRD Loan No.4744-IND

Monthly Progress Report
No. 22 / October 2008

Pusing.......?? #4$&@@@@...?///#$%

Kamis, 09 April 2009

menginjak bumi Teuku Umar



Setelah melayang-layang selama 1 jam dalam pesawat SMAC, akhirnya aku mendarat di Bandara Cut Nyak Dien, Meulaboh, Aceh Barat. Disambut seorang driver ( Halo pak Husein..!), aku diantar keliling dulu melihat kehancuran kota Meulaboh, aku ditunjukkan bagaimana kehancuran di sekeliling Masjid Suak Indrapuri.

Inilah pertama kali aku di Bumi Nangroe, pertama kali gabung NGO. Karena keterbatasan Guest House, aku ditempatkan sementara di Hotel Meuligo, satu-satunya hotel di Meulaboh yang selamat.

Sepanjang jalan. keadaaan masih semrawut, sebagian sampah masih belum dibersihkan, puing-puing rumah masih kelihatan. Hati merinding juga jadinya....Kuasa Allah tiada yang dapat menandinginya; dalam sekejap saja kejadian tersebut!

Rabu, 08 April 2009

Perlu strategi yang pas


Ketika akan melaksanakan pembangunan sarana air bersih di Lamno (Kec. Jaya), di suatu desa, kami mendapatkan berbagai kesulitan, mulai dari ketidakpercayaan masyarakat, ketidaksediaan untuk menyediakan lokasi, permintaan "sumbangan", dan lain-lainnya.

Namun begitu kelihatan tanda-tanda keberhasilan, masyarakat menjadi sangat antusias, dan masih juga tetap menimbulkan masalah yang baru: menyalahkan penempatan lokasi bangunan, meski sebenarnya mereka sendiri yang menentukan lokasi tersebut.

Cara memberikan Bantuan, pengalokasian waktu, ketercukupan sumber daya, ketepatan strategi sangat berpengaruh terhadap keberhasilan pembangunan berbasis masyarkat.

semoga sekali saja terjadi


Banda aceh, semrawut lalu lintasnya, aku menjadi salah satu korbannya. Pagi-pagi ketika jogging (tapi pas kejadian aku lagi jalan kaki), mendadak, guuuuueeeedebbbbruuuggggggggggggg!!! Aku terjatuh ke depan, aku kaget bukan kepalang. Gak ada hujan, gak ada badai kok tiba-tiba aku terjatuh. Apalagi aku juga di sisi kiri jalan. Aku baru tersadar kalau aku itu terjatuh karena tertabarak becak motor, ketika ada seseorang menanyai lukaku dan menawarkan untuk mengantar ke rumah sakit. Seseorang tersebut ternyata adalah si abang becak yang menabrakku!

Setelah aku teliti luka-lukaku, ternyata cukup ringan, aku tolak tawaran untuk diantar ke rumah sakit. Dan aku minta kepada orang tersebut untuk lebih berhati-hati lagi. Masak orang jalan kaki, di sebelah kiri, ditabrak dari belakang!!! Yach.....emang nasib lagi apes.

Selasa, 07 April 2009

Salah sangka ttg Medan


..lucu...! Jangan sekali-sekali berburuk sangka, SU'UDZON!

Pertama kali itulah aku ke Medan, dalam rangka wawancara. Aku mendapatkan image yang salah ttg kota Medan dan orang Bataknya. Sumbernya bermacam-macam; cerita-cerita konyol teman-teman, anekdot-anekdot, sinetron tv dll.

Di benakku, kota Medan dg orang Bataknya adalah sebuah kota yang keras, kasar dan banyak kejahatan!!! Alhamdulillah, begitu mendarat di Polonia, aku mendapatkan jemputan dari seorang Batak yang sangat jauh dari image di kepalaku. Demikian juga sewaktu aku mengitari kota Medan, ternyata aku mendapati sebuah kota yang jauh lebih akrab daripada kota Jakarta.

Permulaan itu....


Pada awalnya adalah karena keterlambatan pengiriman gaji. Aku mengirimkan surat pertanyaan kepada direksi, ee malahan Kepala Cabangku yang ditegur; katanya gak bisa ngarahin anak buah. Manajemen macam apa itu, pikirku.

Karena ketika itu di Surabaya aku indekos di Semolowaru, sementara keluarga tinggal di Rembang, mana mungkin aku ngutang untuk mbayar kost dengan alasan gaji belum ada. Ya gak mungkin lah....!! Aku harus mencari lowongan kerja lagi !!!

Mungkin sudah nasibku, beberapa bulan kemudian aku mendapatkan panggilan utk wawancara di Medan. Bayangkan Medan - Surabaya, sebuah jarak yang tidak begitu dekat, sementara cash in hand tidak ada! Tetapi, beruntunglah aku, karena akau punya satu (saja!) kartu kredit. TInggal gesek, beres! Karena nanti dapat penggantian dari yang mewawancaraiku.

Singkat kata, Alhamdulillah, aku diterima! Di Pertengahan Mei 2005 itulah, aku mulai menempuh jalan kehidupanku yang baru, di belantara Aceh, tepatnya: Meulaboh, Aceh Barat.

Pulang kampung


Sungguh sangat bahagia rasanya. bisa benar-benar pulang kampung, setelah hampir 4 tahun lamanya mengelana di Naggroe Aceh Darussalam dengan meninggalkan keluarga di Sedan, Rembang, Jawa Tengah. Penantian yang sangat panjang rasanya.

Dua setengah tahun pertama di Meulaboh, Aceh Barat, 1,5 tahun berikutnya di Lamno, Aceh Jaya, dan Banda Aceh. Dari Infrastruktur ke shelter, terus ke Watsan. Suka dan duka tersimpan ke dalam memori. Persahabatan dari lintas bangsa, agama dan suku. Keakraban dan kekompakan yang murni, yang baru aku temui selama aku bekerja.

Satu pelajaran yang bisa dipetik adalah: pengorbanan itu membutuhkan kesabaran. Pengorbanan meninggalkan anak istri, handai tolan, teman dekat, dan kampung halaman.

gara-gara akik

Jagoan ketigaku umurnya 8 tahun, kelas 2 Sekolah Dasar. Baru menyenangi akik yang saya beli di Martapura, sewaktu saya pulang bertugas dari ...