Tampilkan postingan dengan label sri susilatama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sri susilatama. Tampilkan semua postingan

Rabu, 04 November 2009

Wesel Pos

Dua kata, mungkin sangat aneh bagi anak-anak jaman sekarang. Tapi jaman kuliah dulu, tiap tanggal muda, di Pogung (JTS dulu), aku selalu mengecek daftar tersebut lewat jendela TU. Kadang dijadikan oleh teman-teman untuk menodong minta traktiran, ketika bilang " Weselmu wis teko!" Kiriman uang tercanggih saat itu ya "WESEL POS".

Suatu ketika, hampir tiap hari aku mengecek tulisan di jendela tersebut. Sudah menginjak bulan kedua, masih belum muncul juga. Karena sudah tidak "tahan", terpaksa aku pulang ke rumah di Sedan, Rembang, minta tambahan "gizi", dan setelahnya kembali ke jogja, bukti kiriman wesel dari orang tua aku bawa serta.

Aku urus di Kantor Pos Kampus, aku tunjukkan bukti kiriman. Valid, wesel sudah pernah singgah di Kantor Pos ini, dan sudah dikirimkan ke Fakultas Teknik. Kemudian aku cek di Fakultas, nah...............baru ketahuan: ternyata weselku dikirimkan ke Jurusan Teknik Mesin! Salah ekspedisi rupanya! Lega rasanya, tinggal nunggu waktu saja, sambil bersabar.

Memang benar, setelah beberapa waktu: tulisan "Sri Susilatama" tercantum di jendela TU.

Minggu, 01 November 2009

Terpesona, tersesat dan terjebak


Akhir tahun 2009, akhir tahun kebersamaan para pekerja kemanusiaan di Serambi Mekah. Kami berempat, keliling-keliling Aceh, sebagai acara perpisahan.

Pagi hari yang cerah, berempat, menaiki dua "kereta". Jantho, Aceh Besar, merupakan tujuan pertama. Kami menuju ke sebuah dam irigasi. Udara masih terasa dinginnya, hijau masih kelihatan di setiap bukitnya, Subhanallah....., TERPESONA aku melihatnya.

Berikutnya, setelah lewat Seulimun, kami menuju ke arah Lampanah. Di sepanjang jalan, kami masih bisa menikmati keindahan alamnya. Tapi, gerimis mulai menyirami jalan yang aku lewati. Gerimis kadang menjelma menjadi hujan. Walau memakai jas hujan, baju dan celana tetap saja menjadi basah karenanya. Sementara matahari mulai menuju ke peristirahatanya, kami tak juga menemukan jalan menuju ke Banda. Lewat sebuah kompleks militer, kami diperiksa, kamera di dalam tas tak luput dari investigasinya. Sang tentara bilang ini adalah daerah GAJAH KENG, sangat terkenal keseramannya sewaktu konflik menimpa. Kami ditunjukkannya jalan pulang menuju Banda.

Waktu sudah menjelang maghrib. Kami masih tetap muter-muter saja, belum menemukan jalan sesungquhnya. Tibalah kami di tepi pantai, tapi kok berada di sisi kiri, seharusnya kalau jalannya benar, pantainya berada di sisi kanan! Kami TERSESAT.

Setelah beberapa kali bertanya, akhirnya kami sampai juga di Daerah Krueng Raya, jam 9 malam. Hujan masih juga menerpa. Kami berhenti sejenak, makan dan minum di sebuah kedai, di dekat Pelabuhan Malahayati. Hujan semakin membesar! Bahkan tak lama berselang, banyak warga berlarian di jalan membawa anggota keluarga untuk mengungsi di tempat yang aman. Ooooo banjir rupanya, kami TERJEBAK.

Setelah menunggu beberapa lama, dan sedikit memberanikan diri melewati derasnya aliran air, Alhamdulillah sampai juga kami di Banda, jam 12 malam lebih kurangnya!

Tamparan kasih sayang


Cuaca memang sangat panas kala itu, sehabis pulang sekolah dari SMPN Sedan, aku tinggal sandal sepatuku sembarangan.

Bapak pulang dari mengajar, kepanasan juga tentunya. Ditambah lagi, mungkin, persoalan di sekolahan. Panas, emosinya memuncak tatkala melihat sandal sepatu yang ditaruh sembarangan. Diambilnya sandal sepatu tersebut, dan ditamparkannya di pipi kiriku. Prakkkkkk!!! Aku merasakan nyeri di pipi. Aku salah. Semenjak saat itu, aku mulai berlatih mendisiplinkan diri, menaruh segala sesuatu pada tempatnya.

Bapakku memang keras. Pernah suatu ketika, kakak-kakakku bertengkar. Lalu masing-masing diberinya tongkat satu-satu, dan disuruhnya untuk melanjutkan pertengkaran agar lebih seru. Mereka berdua urung, tak jadi bertengkar.

Tapi, kekerasan hatinya diselingi dengan kasih sayang terhadap anak-anaknya. Membuatkan alat permainan, mengajak latihan badminton, catur, melatih menggambar, dan....mengajariku cara naik EGRANG. Satu hal yang tak kan pernah kulupa adalah takala aku lolos dari SIPENMARU. Sehari setalah pengumuman, aku diberi uang untuk membeli sepatu baru guna persiapan untuk menjadi seorang mahasiswa baru. Padahal sebelumnya: tidak pernah sekalipun memberiku uang, tanpa aku minta sebelumnya!

gara-gara akik

Jagoan ketigaku umurnya 8 tahun, kelas 2 Sekolah Dasar. Baru menyenangi akik yang saya beli di Martapura, sewaktu saya pulang bertugas dari ...