Inna lillaahi wainna ilaihi rooji'uun......Menjelang beberapa minggu lagi usiaku bertambah setahun, dan itu artinya semakin mendekati batas usiaku, aku mendengar kabar dari rumah C2N, bahwa temanku: dari SD hingga SMP meninggal dunia. Subhanallah, ternyata aku Kau beri umur yang berlebih!
Teringat aku saat-saat di SD, hampir tiap malam belajar bersama-sama di rumahnya: bertiga. Tiap kali belajar bersama, Ibunya menyuguhiku minuman manis, dan kadang-kadang kue apa adanya. Dan yang paling selalu aku ingat adalah tatkala, ibunya pulang dari Ibadah Haji, aku diberinya air ZAM-ZAM. Pada saat itu, saaat aku kecil, air ZAM-ZAM masih sangat-sangat langka, tidak seperti sekarang ini. Entah sengaja atau tidak: aku ketularan, mengikuti jejak Ibunya: bisa ke tanah suci.
Sebelumnya dia bersekolah di Madrasah Ibtida'iyah, tetapi kemudian pindah ke SD, dan seperti kebiasaaan anak-anak di desaku, sepulang SD, siangnya berlanjut ke Diniyah sampai sore. Malam harinya mengaji di surau. Demikian seterusnya sampai ke SMP. Selepas SMP kami terpisah, dia ke PGA (Sekolah guru untuk Pendidikan Guru Agama) dan saya ke SMA. Lulus PGA, dia mondok di Kediri, dan saya kuliah di Jogja. Dia sempat bermain ke tempat pondokan saya sewaktu kuliah, dan bermain bareng di Jogja.
Sampai tiba saatnya berkeluarga, dia tetap tinggal di C2N, sementara saya merantau kemana-mana tetapi keluargaku saya tinggal di C2N, sehingga masih sering bertemu dan mengobrol dengannya.
Sekeluarganya, tergolong berbadan besar semuanya, atau kebanyakan orang menyebutnya "gemuk", kayaknya ada lima bersaudara lelaki semuanya. Memang akhir-akhir ini, aku mendengar dia terkena banyak penyakit: jantung dan entah apa lagi. Mungkin karena "gemuk" inilah yang membawanya cepat-cepat pergi meninggalkan aku selamanya........Selamat jalan sobat, aku sangat bahagia pernah berkawan denganmu walau hanya "sesaat", semoga Allah menempatkanmu ke dalam tempat terindah, yang tidak pernah ada sebelumya, di dunia.
Saya lahir di Sedan (C2N), Kab Rembang, Jawa Tengah. Sekolah dari SD hingga SMP di Sedan, SMA di Rembang kemudian lanjut kuliah di Jogja. Setelah bekerja, awalnya di Konsultan, pindah LSM dan pindah lagi di Kontraktor, proyekan. Sebagai orang proyek, otomatis sering berkembara dari satu kota ke kota lainnya. Blog ini adalah sarana menyimpan memori setiap bentuk kenikmatan yang selalu saya terima selama pengembaraan tersebut.
Minggu, 13 Mei 2012
Rabu, 09 Mei 2012
Plat Palsu: PANUTan apa PANUan
Jabatannya Ketua Besar, jadi panutan banyak orang, namun dengan sengaja memasang plat nomor palsu untuk kendaraannya. Sudah begitu, tidak dengan rendah hati meminta maaf, tapi menyalahkan sang sopir yang menggnati plat nomor palsu tersebut dengan alasan sering dibuntuti orang.
Sang Ketua Besar ini, ketika usai dari KPU dengan "bersih" bergabung ke partai, sementara beberapa koleganya terseret kasus korupsi, sempat menjadi pundak penaruh harapan di tengah-tengah sulitnya mencari sosok pemimpin nasional yang mumpuni. Namun...............kehidupan partai telah menyeretnya ke pusaran "kekeruhan" nama baik dan reputasi. Apalagi, ketika beberapa kolega partainya terseret kasus dan menyebut-nyebut namanya, maka lunturlah nama baik dan reputasi tersebut.
Sang Ketua Besar ini, ketika usai dari KPU dengan "bersih" bergabung ke partai, sementara beberapa koleganya terseret kasus korupsi, sempat menjadi pundak penaruh harapan di tengah-tengah sulitnya mencari sosok pemimpin nasional yang mumpuni. Namun...............kehidupan partai telah menyeretnya ke pusaran "kekeruhan" nama baik dan reputasi. Apalagi, ketika beberapa kolega partainya terseret kasus dan menyebut-nyebut namanya, maka lunturlah nama baik dan reputasi tersebut.
Jumat, 20 April 2012
eKTP vs Kartu INAFIS
Apa itu e-KTP? Apa itu Kartu INAFIS? Saya tidak banyak tahu, keduanya sekalipun!. Karena sampai saat ini (21 April 2012) saya belum punya e-KTP, apalagi kartu INAFIS.
Kalau menurut dugaan saya, keduanya tidak jauh berbeda cuman di tujuannya saja! Yang satu untuk kepentingan administrasi kependudukan di Kemendagri, dan yang satunya lagi untuk kepentingan pelacakan untuk kepentingan POLRI. Apakah sebenarna tidak bisa digabung? Kalau itu tinggal masalah koordinasi semata. Kalau mau ditangani Kemendagri, POLRI tinggal "pesan" kepada Kemendagri: data-data apa saja yang perlu ditambahkan untuk mengakomodir kepentingan POLRI. Kalau sudah sedemikian POLRI bisa konsentrasi penuh menangani tugas-tugasnya yang keteteran tertangani dikarenakan minimnya aparat POLRI dibanding jumlah penduduk RI yang sangat begitu besar. Atau kalau mau ditangani POLRI, Kemendagri tinggal "pesan" data apa kepada POLRI, beres! Tapi kalau melihat saat sekarang, dimana e-KTP sudah berjalan, ya...sudah terlambat.
Mengapa bisa terlambat? Itulah Indonesia: kalau bisa diperlambat, kenapa harus cepat-cepat? Kalau bisa dibuat repot, kenapa harus lancar?????
Kalau menurut dugaan saya, keduanya tidak jauh berbeda cuman di tujuannya saja! Yang satu untuk kepentingan administrasi kependudukan di Kemendagri, dan yang satunya lagi untuk kepentingan pelacakan untuk kepentingan POLRI. Apakah sebenarna tidak bisa digabung? Kalau itu tinggal masalah koordinasi semata. Kalau mau ditangani Kemendagri, POLRI tinggal "pesan" kepada Kemendagri: data-data apa saja yang perlu ditambahkan untuk mengakomodir kepentingan POLRI. Kalau sudah sedemikian POLRI bisa konsentrasi penuh menangani tugas-tugasnya yang keteteran tertangani dikarenakan minimnya aparat POLRI dibanding jumlah penduduk RI yang sangat begitu besar. Atau kalau mau ditangani POLRI, Kemendagri tinggal "pesan" data apa kepada POLRI, beres! Tapi kalau melihat saat sekarang, dimana e-KTP sudah berjalan, ya...sudah terlambat.
Mengapa bisa terlambat? Itulah Indonesia: kalau bisa diperlambat, kenapa harus cepat-cepat? Kalau bisa dibuat repot, kenapa harus lancar?????
Senin, 16 April 2012
nasib....nasib.....(derita rakyat kecil)
Tidak tahu lagi siapa yang salah, yang lebih salah dan yang sangat-sangat salah.
Awalnya berita di koran, seorang kelasi tewas dibunuh gara-garanya karena menegur sekawanan pemotor yang menghalang-halangi jalannya truk yang sedang dia kawal. Entah karena lambat ditangani oleh pihak Kepolisian, atau karena ada sebagian orang yang tidak sabar karena penanganan kasus pembunuhan tersebut yang lambat, tidak berapa lama kemudian muncullah aksi balasan. Mereka yang tidak sabar ini kemudian menyerang beberapa gerombolan pemotor di beberapa titik lokasi, dan pos polisi!
Polisi bertindak, dengan menggandeng TNI mereka berpatroli untuk mencari gerombolan pemotor tersebut. Kenapa perlu "gandengan"? Bukankah sudah diberi kemandirian, lewat Undang-Undang yang sah? Lantas, dalam kasus teroris kenapa Polisi bisa begitu sangat sigap, serang sana sini, tangkap sana sini. Apalagi kalau menyangkut rakyat kecil......?
Coba saja kalau kita sudah berupaya "taat peraturan", kita pasti masih dicari-cari kesalahan yang lain, bukannya malahan diapresiasi: kasih ucapan selamat misalnya. Pernah suatu ketika bertugas di Kalsel, perusahaan sudah membeli BBM industri, tiba gilirannya untuk dibagi-bagi ke lokasi yang memang tersebar, di tengah jalan terhadang patroli, e.......surat-surat sudah lengkap sekalipun, masih saja diminta ini-ini.....dilimpahkan ke teman polisi berikutnya, berbelit-belit lah pokoknya. Begitu tidak menemukan kesalahan, e......dibiarin begitu saja.
Sebenarnya Polisi mempunyai banyak kesempatan untuk membangun citra, yang langsung bisa kelihatan di mata warga. Ini berbeda dengan tempat TNI, yang sukar untuk dilihat warga. Polisi akan dengan mudah dilihat warga untuk kemudian dinilai bagus dimata warga, jika dijalan ketika patroli, memberi apresiasi, memberikan edukasi terhadap kesalahan yang sangat ringan dan memberitahu kesalahan warga seandainya memang rambu-rambu larangan tidak/kurang terlihat dengan jelas. Bukannya menunggu sebuah jebakan atas kekurangtahuan warga.
Awalnya berita di koran, seorang kelasi tewas dibunuh gara-garanya karena menegur sekawanan pemotor yang menghalang-halangi jalannya truk yang sedang dia kawal. Entah karena lambat ditangani oleh pihak Kepolisian, atau karena ada sebagian orang yang tidak sabar karena penanganan kasus pembunuhan tersebut yang lambat, tidak berapa lama kemudian muncullah aksi balasan. Mereka yang tidak sabar ini kemudian menyerang beberapa gerombolan pemotor di beberapa titik lokasi, dan pos polisi!
Polisi bertindak, dengan menggandeng TNI mereka berpatroli untuk mencari gerombolan pemotor tersebut. Kenapa perlu "gandengan"? Bukankah sudah diberi kemandirian, lewat Undang-Undang yang sah? Lantas, dalam kasus teroris kenapa Polisi bisa begitu sangat sigap, serang sana sini, tangkap sana sini. Apalagi kalau menyangkut rakyat kecil......?
Coba saja kalau kita sudah berupaya "taat peraturan", kita pasti masih dicari-cari kesalahan yang lain, bukannya malahan diapresiasi: kasih ucapan selamat misalnya. Pernah suatu ketika bertugas di Kalsel, perusahaan sudah membeli BBM industri, tiba gilirannya untuk dibagi-bagi ke lokasi yang memang tersebar, di tengah jalan terhadang patroli, e.......surat-surat sudah lengkap sekalipun, masih saja diminta ini-ini.....dilimpahkan ke teman polisi berikutnya, berbelit-belit lah pokoknya. Begitu tidak menemukan kesalahan, e......dibiarin begitu saja.
Sebenarnya Polisi mempunyai banyak kesempatan untuk membangun citra, yang langsung bisa kelihatan di mata warga. Ini berbeda dengan tempat TNI, yang sukar untuk dilihat warga. Polisi akan dengan mudah dilihat warga untuk kemudian dinilai bagus dimata warga, jika dijalan ketika patroli, memberi apresiasi, memberikan edukasi terhadap kesalahan yang sangat ringan dan memberitahu kesalahan warga seandainya memang rambu-rambu larangan tidak/kurang terlihat dengan jelas. Bukannya menunggu sebuah jebakan atas kekurangtahuan warga.
Rabu, 04 April 2012
Rusak...... rusak......oh negriku (2)
Menyiapkan kondisi sosial sebuah proyek; sebuah tugas berat. Salah bicara sedikit ke warga, kacaulah pelaksanaannya. Pertama kali kami datangi adalah Kepala Desa. Walau sebenarnya yang berkepentingan adalah cuma Bapak Kepala Desa, tetapi ternyata ada beberapa perangkatnya yang nebeng. Ada maunya, tentu!
Setelah menyampaikan kepentingan, mohon bantuan untuk kelancaran proyek kami, maka meluncurlah berbagai titipan dari mereka. Mulai dari pekerja, bantuan kas desa dan suplier material yang harus dari warga desa. Juga informasi dari mereka: adanya LSM dan ORMAS yang nantinya hendak ikut berperan, dan "riak-riak" kecil yang pasti akan terjadi saat proyek berlangsung karena alasan debu atau bising.
Berikutnya, adalah POLSEK, unsur dari MUSPIKA. Dengan kepentingan yang sama, kami datangi. Informasi yang hampir sama juga kami dapatkan: LSM, ORMAS dan "riak-riak kecil". Dua unsur MUSPIKA berikutnya, belum sempat kami datangi, karena keterbatasan waktu.
Setelah itu, Tim lapangan kami datangkan untuk memulai: pelaksanaan proyek. Benar juga informasi-informasi tersebut. Tim kami, hampir tiap waktu mendapatkan kunjungan dan SMS, dari anggota LSM, anggota ORMAS, oknum pejabat pengamanan, meminta koordinasi tetapi ujung-ujungnya sebenarnya adalah permintaan dana. Walau Tim kami sudah menjelaskan, bahwa kita sudah berkoordinasi dengan perangkat desa dan kecamatan, tetap saja kunjungan dan SMS selalu kami alami dan terima: setiap hari, lebih dari sekali.
Di kesempatan berikutnya, dengan tim yang lebih komplit, dengan ditambah seorang aparat yang lebih "mentereng", kami datang ke lokasi untuk berkoordinasi: LSM, ORMAS, dan aparat keamanan. Sedikit panjang negosiasi, akhirnya tercapailah "kebijaksanaan" dari perusahaan: ada dana untuk mereka. Meski mereka meminta agar dibayar segera, kami bersikukuh tidak bisa, karena kami belum mendapatkan dana dari pemberi kerja.
Dan.....benar, setelah rapat koordinasi tersebut, kunjungan dan SMS tidak ada yang kami terima. Yang masih ada, yaitu "riak-riak kecil" lainnya, yang sanggup kami hadapi.
Sisi lainnya? Masih ada! Urusan administrasi proyek dengan pemberi kerja. Hampir di setiap pintu dan loket untuk pengurusan administrasi, diperlukan "password". Kalau tidak ada, akibatnya jangan ditanya! Pasti menunggu lama dan sangat lama...........Ketika itu, salah seorang teman akan mengurus administrasi (surat) perijinan ke pihak owner (sebuah perusahaan perminyakan), menemui seorang staf. Setelah berkas diserahkan, staf tersebut mengatakan: jadinya "nanti" ya, karena Bos baru ada tamu. "Nanti kapan?" teman saya balik bertanya. "Ya nanti, karena Bos masih ada tamu", jawab staf tak kalah sengitnya.Beberapa saat kemudian, setelah teman saya memberikan "password". Staf tersebut menjawab," Nanti jam 3 hubungi saya ya!".
Setelah menyampaikan kepentingan, mohon bantuan untuk kelancaran proyek kami, maka meluncurlah berbagai titipan dari mereka. Mulai dari pekerja, bantuan kas desa dan suplier material yang harus dari warga desa. Juga informasi dari mereka: adanya LSM dan ORMAS yang nantinya hendak ikut berperan, dan "riak-riak" kecil yang pasti akan terjadi saat proyek berlangsung karena alasan debu atau bising.
Berikutnya, adalah POLSEK, unsur dari MUSPIKA. Dengan kepentingan yang sama, kami datangi. Informasi yang hampir sama juga kami dapatkan: LSM, ORMAS dan "riak-riak kecil". Dua unsur MUSPIKA berikutnya, belum sempat kami datangi, karena keterbatasan waktu.
Setelah itu, Tim lapangan kami datangkan untuk memulai: pelaksanaan proyek. Benar juga informasi-informasi tersebut. Tim kami, hampir tiap waktu mendapatkan kunjungan dan SMS, dari anggota LSM, anggota ORMAS, oknum pejabat pengamanan, meminta koordinasi tetapi ujung-ujungnya sebenarnya adalah permintaan dana. Walau Tim kami sudah menjelaskan, bahwa kita sudah berkoordinasi dengan perangkat desa dan kecamatan, tetap saja kunjungan dan SMS selalu kami alami dan terima: setiap hari, lebih dari sekali.
Di kesempatan berikutnya, dengan tim yang lebih komplit, dengan ditambah seorang aparat yang lebih "mentereng", kami datang ke lokasi untuk berkoordinasi: LSM, ORMAS, dan aparat keamanan. Sedikit panjang negosiasi, akhirnya tercapailah "kebijaksanaan" dari perusahaan: ada dana untuk mereka. Meski mereka meminta agar dibayar segera, kami bersikukuh tidak bisa, karena kami belum mendapatkan dana dari pemberi kerja.
Dan.....benar, setelah rapat koordinasi tersebut, kunjungan dan SMS tidak ada yang kami terima. Yang masih ada, yaitu "riak-riak kecil" lainnya, yang sanggup kami hadapi.
Sisi lainnya? Masih ada! Urusan administrasi proyek dengan pemberi kerja. Hampir di setiap pintu dan loket untuk pengurusan administrasi, diperlukan "password". Kalau tidak ada, akibatnya jangan ditanya! Pasti menunggu lama dan sangat lama...........Ketika itu, salah seorang teman akan mengurus administrasi (surat) perijinan ke pihak owner (sebuah perusahaan perminyakan), menemui seorang staf. Setelah berkas diserahkan, staf tersebut mengatakan: jadinya "nanti" ya, karena Bos baru ada tamu. "Nanti kapan?" teman saya balik bertanya. "Ya nanti, karena Bos masih ada tamu", jawab staf tak kalah sengitnya.Beberapa saat kemudian, setelah teman saya memberikan "password". Staf tersebut menjawab," Nanti jam 3 hubungi saya ya!".
Berhajilah selagi Muda (07) ARMINA
Inilah inti ibadah Haji. Perjalanan dimulai pada tanggal 8 Dzulhijjah, dari Mekah menuju Arofah. Ada beberapa rombongan yang mengambil tinggal terlebih dulu di Mina, tidak langsung di Arofahnya, Hari Tarwiyah. Sedangkan rombongan kami lebih memilih amannya, mengingat pada hari-hari tersebut lalu lintas sangat padat, mudah sekali terjebak kemacetan. Jika terkena macet, sebelum tiba di Arofah pada tanggal 9 Dzulhijjah, saatnya wukuf, maka gagallah haji kita. Kenyataannya memang ada beberapa rombongan yang tibanya di arofah pada tanggal 9 dzulhijjah pada sore harinya. Padahal Wukuf dimulai setelah matahari tergelincir, tanggal 9 dzulhijjah.
Berangkat dari Mekah, setelah sholat jumat, tanggal 8 dzulhijjah, rombongan kami tiba di Arofah sekitar waktu ashar. Jaraknya tidak terlalu jauh memang, sekitar 5 kilometeran. Cuman lalau lintasnya saja yang sangat padat. Sholat berjamaah, dzikir, baca Quran adalah kegiatan utama di sini selain mengantri! Bayangkan, seluruh jamaah haji terkonsentrasi di Arofah dengan fasilitas yang terbatas: makan dan minum, dan MCK. Memang benar di sinilah kesabaran para jamaah haji diuji, terutama dalam hal kesabaran mengantri. Mau makan: antri, mau ke MCK antri, yang paling tidak enak adalah ketika sudah sangat kebelet untuk buang air besar masih harus tetap menunggu antrian karena jamaah di depan kita tidak mau mengalah untuk memberi tempat terlebih dulu.
Pagi hari menjelang sholat shubuh, suasana di Arofah bergeliat oleh kegiatan para jamaah yang sudah antri mengular untuk berthoharoh :ke toilet, mandi, dan wudlu. Setelah sholat shubuh berjamaah, antri lagi untuk sarapan pagi. Setelah itu sholat dluha, mengaji dan bersiap-siap wukuf setelah sholat dluhur terlebih dulu. Suasana haru sudah mulai terasa semenjak pagi itu.....dan lebih terasa saat setelah sholat dluhur. Keharuan, kesyahduan, sesenggukan, tangisan dan linangan air mata sudah dimulai semenjak khotbah wukuf disuarakan.
Dan puncaknya.......adalah saat wukuf itu sendiri! Tangisan, sesenggukan dan linangan air mata yang tiada henti membasahi arofah yang kering kerontang. Apalagi suasana Arofah memang sudah demikian adanya: hening dan syahdu! Sangat terasa. Tempat bertemunya Nabi Adam dan Ibu Hawa, nenek moyang umat manusia di seluruh dunia.
Menjelang maghrib, jamaah berkemas untuk menuju muzdalifah, mabit sampai menjelang fajar, mengumpulkan batu-batu untuk jumrah di Mina. Jaraknya juga tidak jauh, hanya karena lalu lintas yang padat yang sering membikin para jamaah terlambat tiba di muzdalifah. Oleh karena alasan tersebut, ada beberapa jamaah yang lebih memilih berjalan kaki dari arofah menuju ke Muzdalifah. Setelah mengumpulkan batu-batu, jamaah beristirahat, tidur ayam, untuk kemudian bangun lagu dan bersiap-siap menunggu jemputan bus ke Mina, pagi dini harinya.
Perlu berhati-hati di muzdalifah, usahakan tetap berkumpul dengan rombongan, karena seluruh jamaah berkumpul di satu titik ini. Sekejap terpisah, sangat sulit menemukan rombongannya kembali. Meskipun di sini waktunya cuma sebentar, namun saya menjumpai begitu banyak jamaah haji dari daerah lain yang tersesat mencari teman satu rombongannya. Dan justru karena sebentar, jika kita tersesat dalam waktu yang lama akan mengacaukan jadwal pemberangkatan menuju ke Mina, tempat melaksanakan jumroh.
Menjelang dinihari, bus jemputan mulai berdatangan di muzdalifah. Kloter demi kloter berbaris menuju pinggir jalan, tempat untuk naik ke dalam bus yang akan membawa kita menuju Mina. Tidak perlu waktu lama untuk sampai di Mina, karena jaraknya yang tida jauh. Istirahat sebentar, bersih-bersih, mandi, ambil wudlu lalu rombongan bersiap-siap menuju jamarat. Pemilihan waktu dini hari ini bukannya tanpa alasan, karena untuk menghindari kesesakan dan penuhnya jamaah di siang hari. Banyak jamaah yang mencari waktu utama (afdhol) yaitu setelah matahari tergelincir di siang hari. Apalagi jarak yang harus kami tempuh dari perkemahan ke jamarat cukup jauh, sehingga kalau berangkat siang hari dengan panas matahari yang cukup terik, akan menguras tenaga kita, meskipun di beberapa titik disiapkan tempat untuk minum air dan MCK secara gratis. Takbir dan tahmid selalu berkumandang menemani setiap langkah kita bersama-sama dengan umat islam dari belahan dunia lainnya. Jumrah hari pertama cukup melempar di jumarah aqobah, satu tempat saja.
Hari kedua di Mina, seperti hari sebelumnya, kita harus melaksanakan jumrah, tapi kali ini di tiga tempat, Ula, wustho dan aqobah. Kali ini, saya berempat: istri dan sepasang teman: suami istri, memisahkan dari rombongan karena kami berniat untuk melaksanakan tanazul: menyempatkan ke Mekah untuuk thowaf ifadloh lalu kembali lagi ke Mina untuk mengambil nafar tsani. Berbeda dengan para jamaah lain dalam satu rombongan yang kebanyakan memilih nafar awal. Selesai, ketiga jumroh, kami berempat berjalan kaki menuju titik tempat adanya taksi tujuan Mekah. Sebelumnya kami sudah mendapatkan informasi, bahwasanya saat-saat wukuf tarif taksi akan naik berlipat. Benar saja, kami per kepala dikenai harga SAR 10 untuk harga yang biasanya cuman SAR 4-5.
Tiba di Mekah, kami langsung melaksanakan thowaf ifadloh dan sa'i, dengan rasa lelah yang tidak terkira, setelah sebelumnya jalan kaki dari kemah menuju ke jamarat. Alhamdulillah, masih kuat juga. Tetapi tiba gilirannya untuk pulang ke Maktab di Nakassah dan balik lagi ke Mina.....? Sungguh-sungguh tidak kuat. Maka, kami berempat memutuskan untuk naik taksi menuju ke Maktab di Nakassah. Berapa tarifnya? SAR 150 !!! Sungguh sebuah harga yang mencekik. Tapi, gimana lagi? Sudah tidak ada pilihan. Padahal harga biasa naik taksi berombongan cukup cukup dengan harga SAR 2, atau taksi yang bagus (isi 4 orang), harganya SAR 5.
Di taksi sambil ngobrol dengan sopir, yang kebanyakan lebih banyak pakai bahasa monyet (baca: isyarat), kami mendapatkan informasi kalau sopir tersebut berasal dari Afganistan. Tidak lupa pula membuat janji dengannya untuk mengantarkan kami nanti malam ke Mina, setelah kami istirahat cukup di maktab. Dengan tujuan Mina, berangkat dari Nakassah, harganya lebih gila, yaitu SAR 350.
..........................tunggu kelanjutannya!
Berangkat dari Mekah, setelah sholat jumat, tanggal 8 dzulhijjah, rombongan kami tiba di Arofah sekitar waktu ashar. Jaraknya tidak terlalu jauh memang, sekitar 5 kilometeran. Cuman lalau lintasnya saja yang sangat padat. Sholat berjamaah, dzikir, baca Quran adalah kegiatan utama di sini selain mengantri! Bayangkan, seluruh jamaah haji terkonsentrasi di Arofah dengan fasilitas yang terbatas: makan dan minum, dan MCK. Memang benar di sinilah kesabaran para jamaah haji diuji, terutama dalam hal kesabaran mengantri. Mau makan: antri, mau ke MCK antri, yang paling tidak enak adalah ketika sudah sangat kebelet untuk buang air besar masih harus tetap menunggu antrian karena jamaah di depan kita tidak mau mengalah untuk memberi tempat terlebih dulu.
Pagi hari menjelang sholat shubuh, suasana di Arofah bergeliat oleh kegiatan para jamaah yang sudah antri mengular untuk berthoharoh :ke toilet, mandi, dan wudlu. Setelah sholat shubuh berjamaah, antri lagi untuk sarapan pagi. Setelah itu sholat dluha, mengaji dan bersiap-siap wukuf setelah sholat dluhur terlebih dulu. Suasana haru sudah mulai terasa semenjak pagi itu.....dan lebih terasa saat setelah sholat dluhur. Keharuan, kesyahduan, sesenggukan, tangisan dan linangan air mata sudah dimulai semenjak khotbah wukuf disuarakan.
Dan puncaknya.......adalah saat wukuf itu sendiri! Tangisan, sesenggukan dan linangan air mata yang tiada henti membasahi arofah yang kering kerontang. Apalagi suasana Arofah memang sudah demikian adanya: hening dan syahdu! Sangat terasa. Tempat bertemunya Nabi Adam dan Ibu Hawa, nenek moyang umat manusia di seluruh dunia.
Menjelang maghrib, jamaah berkemas untuk menuju muzdalifah, mabit sampai menjelang fajar, mengumpulkan batu-batu untuk jumrah di Mina. Jaraknya juga tidak jauh, hanya karena lalu lintas yang padat yang sering membikin para jamaah terlambat tiba di muzdalifah. Oleh karena alasan tersebut, ada beberapa jamaah yang lebih memilih berjalan kaki dari arofah menuju ke Muzdalifah. Setelah mengumpulkan batu-batu, jamaah beristirahat, tidur ayam, untuk kemudian bangun lagu dan bersiap-siap menunggu jemputan bus ke Mina, pagi dini harinya.
Perlu berhati-hati di muzdalifah, usahakan tetap berkumpul dengan rombongan, karena seluruh jamaah berkumpul di satu titik ini. Sekejap terpisah, sangat sulit menemukan rombongannya kembali. Meskipun di sini waktunya cuma sebentar, namun saya menjumpai begitu banyak jamaah haji dari daerah lain yang tersesat mencari teman satu rombongannya. Dan justru karena sebentar, jika kita tersesat dalam waktu yang lama akan mengacaukan jadwal pemberangkatan menuju ke Mina, tempat melaksanakan jumroh.
Menjelang dinihari, bus jemputan mulai berdatangan di muzdalifah. Kloter demi kloter berbaris menuju pinggir jalan, tempat untuk naik ke dalam bus yang akan membawa kita menuju Mina. Tidak perlu waktu lama untuk sampai di Mina, karena jaraknya yang tida jauh. Istirahat sebentar, bersih-bersih, mandi, ambil wudlu lalu rombongan bersiap-siap menuju jamarat. Pemilihan waktu dini hari ini bukannya tanpa alasan, karena untuk menghindari kesesakan dan penuhnya jamaah di siang hari. Banyak jamaah yang mencari waktu utama (afdhol) yaitu setelah matahari tergelincir di siang hari. Apalagi jarak yang harus kami tempuh dari perkemahan ke jamarat cukup jauh, sehingga kalau berangkat siang hari dengan panas matahari yang cukup terik, akan menguras tenaga kita, meskipun di beberapa titik disiapkan tempat untuk minum air dan MCK secara gratis. Takbir dan tahmid selalu berkumandang menemani setiap langkah kita bersama-sama dengan umat islam dari belahan dunia lainnya. Jumrah hari pertama cukup melempar di jumarah aqobah, satu tempat saja.
Hari kedua di Mina, seperti hari sebelumnya, kita harus melaksanakan jumrah, tapi kali ini di tiga tempat, Ula, wustho dan aqobah. Kali ini, saya berempat: istri dan sepasang teman: suami istri, memisahkan dari rombongan karena kami berniat untuk melaksanakan tanazul: menyempatkan ke Mekah untuuk thowaf ifadloh lalu kembali lagi ke Mina untuk mengambil nafar tsani. Berbeda dengan para jamaah lain dalam satu rombongan yang kebanyakan memilih nafar awal. Selesai, ketiga jumroh, kami berempat berjalan kaki menuju titik tempat adanya taksi tujuan Mekah. Sebelumnya kami sudah mendapatkan informasi, bahwasanya saat-saat wukuf tarif taksi akan naik berlipat. Benar saja, kami per kepala dikenai harga SAR 10 untuk harga yang biasanya cuman SAR 4-5.
Tiba di Mekah, kami langsung melaksanakan thowaf ifadloh dan sa'i, dengan rasa lelah yang tidak terkira, setelah sebelumnya jalan kaki dari kemah menuju ke jamarat. Alhamdulillah, masih kuat juga. Tetapi tiba gilirannya untuk pulang ke Maktab di Nakassah dan balik lagi ke Mina.....? Sungguh-sungguh tidak kuat. Maka, kami berempat memutuskan untuk naik taksi menuju ke Maktab di Nakassah. Berapa tarifnya? SAR 150 !!! Sungguh sebuah harga yang mencekik. Tapi, gimana lagi? Sudah tidak ada pilihan. Padahal harga biasa naik taksi berombongan cukup cukup dengan harga SAR 2, atau taksi yang bagus (isi 4 orang), harganya SAR 5.
Di taksi sambil ngobrol dengan sopir, yang kebanyakan lebih banyak pakai bahasa monyet (baca: isyarat), kami mendapatkan informasi kalau sopir tersebut berasal dari Afganistan. Tidak lupa pula membuat janji dengannya untuk mengantarkan kami nanti malam ke Mina, setelah kami istirahat cukup di maktab. Dengan tujuan Mina, berangkat dari Nakassah, harganya lebih gila, yaitu SAR 350.
..........................tunggu kelanjutannya!
Senin, 26 Maret 2012
Rusak.....rusak.....oh negriku
Lama bertugas di pedalaman Kalimantan, senang rasanya begitu mendapatkan penugasan di Jawa, serasa pulang kembali ke tanah leluhur, padahal sebenarnya sudah dapat jatah pulang cuti tiap dua bulan sekali selama seminggunan. Jreng jreng......!!
Apalagi mendapatkan informasi yang lebih detail lokasinya, yaitu: Rengasdengklok! Tuing....langsung nyambung pikiran saya, itu kan nama daerah yang punya nama harum dalam sejarah revolusi fisik kemerdekaan kita. Di tempat itulah para pemuda kita mengamankan duet proklamator kita, sebelum mereka memproklamirkan kemerdekaan bangsa Indoonesia. Pastilah warganya tidak jauh beda dengan para pemudanya dulu: Nasionalis tulen, rela berkorban untuk bangsanya.
Dari arah Jakarta, keluar tol di gerbang Karawang Barat, masuk ke arah pantai utara menyusuri sungai (buatan) untuk menuju ke Rengasdengklok. Melihat pemandangan di sekitar jalam masuk ini, timbul pertanyaan dalam hati; apa betul suasana indah tentang Rengasdengklok yang ada di benak saya itu? Jajaran rumah yang kurang terawat dengan baik, sanitasi kurang bagus, drainase mampat, pemuda-pemuda tanggung yang nongkrong di pinggir-pinggir jalan atau di kedai, atau yang menjadi pak ogah: pengatur lalu lintas yang meminta imbalan suka-suka.
Benar saja......begitu melewati Tugu/monumen peringatan di tanah lapang, coretan-coretan cat dengan tulisan yang merusak keindahan ada dimana-mana. Inikah penerus generasi para pengharum bangsa, di Rengasdengklok? Monumen tidak terawat, kambing gembalaan berkeliaran di sekitar, tempat kotor dan kumuh seolah-olah terabaikan dan seorang tua renta berdiri di tengah jalan meminta kutipan kepada setiap kendaraan yang melintas. Aku langsung malas untuk turun untuk mengabadikan kenangan, memilih untuk terus masuk ke dalam menuju ke lokasi proyek.
Lebih ke dalam, perasaanku keadaan juga semakin lebih buruk: lebih kotor dan kumuh dibandingkan sebelumnya. Kendaraan mendadak macet, mengantri.......: " Ada apa pak?" tanyaku kepada seseorang yang sambil menggendong anak kecilnya berdiri di pinggir jalan ikut melihat keramaian yang ada jauh di depan. "Biasa......rebutan cowok!" jawabnya. Hah.....?! Logika normalku, di kebanyakan daerah yang telah aku datangi, lebih banyak cowok yang kesulitan untuk mendapatkan pasangan cewek. Lha ini, di sini......malahan terbalik. Alhamdulillah keributan cepat terurai, dan kendaraan terus bisa masuk ke dalam, tibalah di lokasi.
Pada lain waktu, saat proyek sudah dimulai, pada tahap awal-awal, kerumitan yang sebenar-benarnya terjadi! Perangkat desa ketika saya datangi dalam sosialisasi dan perkenalan, menjelaskan kerumitan yang mungkin timbul di desanya: tuntutan uang debu, uang bising, titip pekerja, dan oknum LSM yang akan meminta biaya tertentu. Prediksi itu memang benar adanya, bahkan lebih parah. Ketika kami akan memobilisasi alat berat ke lokasi proyek, kami menghadap terlebih dulu kepada aparat setempat untuk meminta bantuan pengawalan. Sambil memberikan biaya transport untuk mengawal alat berat tersebut, kami dengan sangat-sangat meminta bagaimana caranya alat berat tersebut harus tiba di lokasi malam itu juga. Untuk sekedar jaga-jaga, kami juga meminta bantuan hal yang sama kepada suplier lokal kami. Tatkala malam tiba, sekitar pukul 23.30 WIB, meluncurlah trailer yang membawa alat berat dari daerah Cakung keluar pintu tol di Karawang Barat. Sebelumnya sudah saya atur, agar antara Sopir dan pengawal (dari aparat) untuk berkoordinasi, untuk ketemu di suatu titik setelah keluar pintu tol. Tidak saya sangka........ternyata sang pengawal aparat tersebut malahan memerintahkan untuk berhenti terlebih dulu, dan menunggu sampai besok pagi baru mau mengawalnya. Alasannya pengawal aparat? Ada pasar tumpah, yang sulit untuk memerintahkan pedagangnya memberi jalan trailer lewat, dan ditambah adanya pengajian takut mengganggu proses pengajian tersebut.
Karena tidak mau merugi, sopir trailer nekat jalan sendiri menerobos keramaian pasar. ternyata ada beberapa "warga" yang mau membantu menggerakkan pedagang untuk memberi jalan. Rintangan pertama sukses terlewati, demikian juga rintangan kedua: tempat pengajian yang relatip lebih gampang juga berhasil dilewati. Tetapi.....di bagian belakang ini yang sangat tidak enak: pengawal ini minta harga yang tidak bisa ditawar, sesuka mereka!
Apalagi mendapatkan informasi yang lebih detail lokasinya, yaitu: Rengasdengklok! Tuing....langsung nyambung pikiran saya, itu kan nama daerah yang punya nama harum dalam sejarah revolusi fisik kemerdekaan kita. Di tempat itulah para pemuda kita mengamankan duet proklamator kita, sebelum mereka memproklamirkan kemerdekaan bangsa Indoonesia. Pastilah warganya tidak jauh beda dengan para pemudanya dulu: Nasionalis tulen, rela berkorban untuk bangsanya.
Dari arah Jakarta, keluar tol di gerbang Karawang Barat, masuk ke arah pantai utara menyusuri sungai (buatan) untuk menuju ke Rengasdengklok. Melihat pemandangan di sekitar jalam masuk ini, timbul pertanyaan dalam hati; apa betul suasana indah tentang Rengasdengklok yang ada di benak saya itu? Jajaran rumah yang kurang terawat dengan baik, sanitasi kurang bagus, drainase mampat, pemuda-pemuda tanggung yang nongkrong di pinggir-pinggir jalan atau di kedai, atau yang menjadi pak ogah: pengatur lalu lintas yang meminta imbalan suka-suka.
Benar saja......begitu melewati Tugu/monumen peringatan di tanah lapang, coretan-coretan cat dengan tulisan yang merusak keindahan ada dimana-mana. Inikah penerus generasi para pengharum bangsa, di Rengasdengklok? Monumen tidak terawat, kambing gembalaan berkeliaran di sekitar, tempat kotor dan kumuh seolah-olah terabaikan dan seorang tua renta berdiri di tengah jalan meminta kutipan kepada setiap kendaraan yang melintas. Aku langsung malas untuk turun untuk mengabadikan kenangan, memilih untuk terus masuk ke dalam menuju ke lokasi proyek.
Lebih ke dalam, perasaanku keadaan juga semakin lebih buruk: lebih kotor dan kumuh dibandingkan sebelumnya. Kendaraan mendadak macet, mengantri.......: " Ada apa pak?" tanyaku kepada seseorang yang sambil menggendong anak kecilnya berdiri di pinggir jalan ikut melihat keramaian yang ada jauh di depan. "Biasa......rebutan cowok!" jawabnya. Hah.....?! Logika normalku, di kebanyakan daerah yang telah aku datangi, lebih banyak cowok yang kesulitan untuk mendapatkan pasangan cewek. Lha ini, di sini......malahan terbalik. Alhamdulillah keributan cepat terurai, dan kendaraan terus bisa masuk ke dalam, tibalah di lokasi.
Pada lain waktu, saat proyek sudah dimulai, pada tahap awal-awal, kerumitan yang sebenar-benarnya terjadi! Perangkat desa ketika saya datangi dalam sosialisasi dan perkenalan, menjelaskan kerumitan yang mungkin timbul di desanya: tuntutan uang debu, uang bising, titip pekerja, dan oknum LSM yang akan meminta biaya tertentu. Prediksi itu memang benar adanya, bahkan lebih parah. Ketika kami akan memobilisasi alat berat ke lokasi proyek, kami menghadap terlebih dulu kepada aparat setempat untuk meminta bantuan pengawalan. Sambil memberikan biaya transport untuk mengawal alat berat tersebut, kami dengan sangat-sangat meminta bagaimana caranya alat berat tersebut harus tiba di lokasi malam itu juga. Untuk sekedar jaga-jaga, kami juga meminta bantuan hal yang sama kepada suplier lokal kami. Tatkala malam tiba, sekitar pukul 23.30 WIB, meluncurlah trailer yang membawa alat berat dari daerah Cakung keluar pintu tol di Karawang Barat. Sebelumnya sudah saya atur, agar antara Sopir dan pengawal (dari aparat) untuk berkoordinasi, untuk ketemu di suatu titik setelah keluar pintu tol. Tidak saya sangka........ternyata sang pengawal aparat tersebut malahan memerintahkan untuk berhenti terlebih dulu, dan menunggu sampai besok pagi baru mau mengawalnya. Alasannya pengawal aparat? Ada pasar tumpah, yang sulit untuk memerintahkan pedagangnya memberi jalan trailer lewat, dan ditambah adanya pengajian takut mengganggu proses pengajian tersebut.
Karena tidak mau merugi, sopir trailer nekat jalan sendiri menerobos keramaian pasar. ternyata ada beberapa "warga" yang mau membantu menggerakkan pedagang untuk memberi jalan. Rintangan pertama sukses terlewati, demikian juga rintangan kedua: tempat pengajian yang relatip lebih gampang juga berhasil dilewati. Tetapi.....di bagian belakang ini yang sangat tidak enak: pengawal ini minta harga yang tidak bisa ditawar, sesuka mereka!
Langganan:
Postingan (Atom)
gara-gara akik
Jagoan ketigaku umurnya 8 tahun, kelas 2 Sekolah Dasar. Baru menyenangi akik yang saya beli di Martapura, sewaktu saya pulang bertugas dari ...
-
Pekerjaan baru, membawaku ke kota Bandung. Kurang lebih 3 (bulan) bekerja di perusahaan ini, terjadi pergantian di pucuk pimpinan, Direksi. ...
-
Permasalahan rasanya selalu muncul terus. Beres satu muncul kedua, ketiga dan seterusnya. Tuhan sudah mengatur segalanya, dikasihnya kita ma...
-
Jangan terburu-buru dalam membeli oleh-oleh di tanah suci, teliti terlebih dulu barang tersebut, karena ada beberapa barang yang ternyata be...
