Untuk memberi gambaran lingkup pergerakan jamaah haji saat inti kegiatan haji: tanggal, lokasi, kegiatan dan pakaian dapat dilihat pada skema kegiatan Ibadah Haji . Kegiatan pokoknya adalah sbb:
1. Wukuf di Arofah (lihat daerah di sekitar Jabal Rahmah)
2. Mabit di Musdalifah ( daerah antara Arofah dan Mina)
3. Jamarat, bolak-balik antara Perkemahan Mina dan Jamarat
4. Mekah (Tanazul dan Thowaf Ifadloh)
Agar tidak mengalami hal yang saya alami, ketika melakukan tanazul (pada tgl 11 dzulhijjah , atau pada hari kedua di Mina, setelah jumroh aqobah langsung menuju ke Mekah untuk melakukan Thowaf Ifadloh), kami berempat (karena tidak tahu jalan) dari Jamarat ke masjidil haram naik taksi pergi pulang dengan harga yang sangat-sangat mahal. Dan itupun menjelang sampainya di Mina, masih tetap harus jalan kaki, karena ruas jalan menuju ke Mina ditutup untuk mengakomodir pejalan kaki yang meluber. Bayangkan dari Jamarat ke Masjidil Haram naik bus umum perorang kena tarif SAR 20, naik taksi dari Masjidil Haram ke Nakasah kena SAR 150, dan dari Nakasa kembali ke Mina kena tarif SAR 350. (SAUDI ARABIA RIYAL= SAR, SAR 1 = Rp.2.500,-) Luar biasa mahal! Padahal seandainya saja pada saat itu saya diberitahu (menurut saya menjadi kewajiban Petugas Haji untuk memberitahu), cukup jalan kaki, karena ternyata hanya berjarak sekitar 5 KM.
Saya lahir di Sedan (C2N), Kab Rembang, Jawa Tengah. Sekolah dari SD hingga SMP di Sedan, SMA di Rembang kemudian lanjut kuliah di Jogja. Setelah bekerja, awalnya di Konsultan, pindah LSM dan pindah lagi di Kontraktor, proyekan. Sebagai orang proyek, otomatis sering berkembara dari satu kota ke kota lainnya. Blog ini adalah sarana menyimpan memori setiap bentuk kenikmatan yang selalu saya terima selama pengembaraan tersebut.
Jumat, 03 Februari 2012
Kamis, 02 Februari 2012
Mabit di Musdalifah
Menjelang Maghrib, jamaah berkemas dari Arofah menuju Musdalifah. Tidak begitu jauh. Tepatnya berupa lapangan terbuka, dengan dilengkapi beberapa MCK, dan dipagar, untuk memisahkan dengan jalan dengan beberapa pintu keluar pada jarak tertentu.
Di sini, kita mencari kerikil, dengan jumlah:
1. Jumroh Aqobah (tgl 10 Dzulhijjah) 7 bh;
2. Jumroh Ula, wustho dan Aqobah (tgl 11 Dzulhijjah): 3x7 = 21 bh
3 Jumroh Ula, Wustho, Aqobah (tgl 12 Dzulhijaah): 3x7 = 21 bh; dan bagi yang nafar tsani ditambah:
4. Jumroh Ula, wustho, Aqobah (tgl 13 Dzulhijah); 3x7 = 21 bh.
Setelah mendapatkan batu tersebut, kita dapat beristirahat, tidur sebentar sambil menunggu jemputan untuk berangkat ke Mina.
Wukuf
Sehari menjelang wukuf, jamaah sudah tiba di arofah. Ada juga kloter lain yang singgah di Mina dulu untuk tarwiyah, baru pagi harinya tanggal 9 Dzulhijjah, tiba di Arofah. Namun hendaknya yang menjadi perhatian adalah bahwa pada tanggal tersebut, lalu lintas ke Arofah sangat padat. Akibatnya adalah ada beberapa kloter yang hampir terlambat tiba di Arofah saat wukuf dimulai. Sehingga pantaslah kiranya KBIH saya memutuskan untuk tiba lebih dini di Arofah untuk menghindari hal-hal seperti itu.
Di Arofah, tenda-tenda sudah disediakan oleh pengelola Maktab. Jamaah laki-laki dipisahkan dengan jamaah perempuan. Makanan disediakan, dengan cara antrian tentu saja. Minuman pun demikian, panas: kopi atau teh; dan dingin: air putih botolan. Kamar mandi umum ada juga, tetapi sangat terbatas, terpisah antara laki-laki dan perempuan. Di sinilah ujiannya: antri mengular panjaaaaang sekali. Harus kita atur: jangan sampai kita ketinggalan saat wukuf.
Beberapa jamaah yang sudah pernah Haji/umrah, seusai sholat shubuh akan menuju Jabal Rahmah. Sayang saya tidak tahu, dan tidak diberitahu oleh Petugas Haji jalan menuju ke Jabal Rahmah tersebut. Andai tahu...........? Saya akan menuju ke situ juga. Menjelang dzuhur, kembali lagi ke tenda, untuk berwukuf.
Dan, tibalah saat wukuf:.....................................................banjir air mata!
Di Arofah, tenda-tenda sudah disediakan oleh pengelola Maktab. Jamaah laki-laki dipisahkan dengan jamaah perempuan. Makanan disediakan, dengan cara antrian tentu saja. Minuman pun demikian, panas: kopi atau teh; dan dingin: air putih botolan. Kamar mandi umum ada juga, tetapi sangat terbatas, terpisah antara laki-laki dan perempuan. Di sinilah ujiannya: antri mengular panjaaaaang sekali. Harus kita atur: jangan sampai kita ketinggalan saat wukuf.
Beberapa jamaah yang sudah pernah Haji/umrah, seusai sholat shubuh akan menuju Jabal Rahmah. Sayang saya tidak tahu, dan tidak diberitahu oleh Petugas Haji jalan menuju ke Jabal Rahmah tersebut. Andai tahu...........? Saya akan menuju ke situ juga. Menjelang dzuhur, kembali lagi ke tenda, untuk berwukuf.
Dan, tibalah saat wukuf:.....................................................banjir air mata!
Rabu, 01 Februari 2012
Ujung Pandang (Makassar)
Tahun 1997, dulu kotanya bernama Ujung Pandang, sekarang berganti Makassar. Hampir setahun tinggal di ibukota Sulawesi Selatan, mengelola kantor cabang sebuah konsultan nasional, berkantor di Toddopuli, Panakukkang. Pisang Epek, Sop Konro, Coto, Palu Butung, Es Pisang Ijo dan jalangkotek: sebutan penganan yang ada di Makassar, meski sebenarnya barangnya sudah pernah aku kenali di Jawa.
Tindak kejahatan dengan kekerasan kerap kali terjadi. Hampir tiap hari, koran memberitakannya. Di tempat-tempat yang rawan, pintu rumah selalu dengan pintu ganda, untuk pengamanan. Pulang larut malam, selalu saya hindari.
Relasi kantor kebanyakan adalah pejabat kantor pemerintahan, bidang Pekerjaan Umum utamanya. Karena tidak disediakan Sopir, di sinilah dengan terpaksa: aku belajar mengemudi. Bisa! Meskipun dengan beberapa kali memakan korban: pertama menyenggol pintu gerbang kantor dan yang kedua saat berusaha keluar dari terperosok malahan menabrak bagian belakang mobil proyek milik relasi.
Pada suatu ketika, aku mendapatkan berita bahwa salah satu relasiku hendak pergi ke tanah suci untuk menunaikan ibadah haji. Datanglah saya untuk bersilaturahmi, medoakan keselematannya dan meminta untuk memanggil-manggil namaku saat di tanah suci nantinya, supaya aku bisa segera ikut menyusulnya. Tidak kusangka, sekembalinya dari tanah suci, beliau memberitahuku: " Pak Sus namamu sudah aku panggil di sana lho ya....!"
Pertama kali mendapatkan penugasan di kota ini, Isteriku pas mengandung anak pertamaku, Jagoan Pertama biasa aku menyebutnya.
Aku tinggal sendirian, isteri saya tinggal di PMI (Pondok Mertua Indah) C2N, Rembang. Sebulan sampai dua bulan sekali aku pulang untuk keluargaku. Suasana kantor chaos, orang-orangnya "aneh", tinggalan manajemen cabang sebelumnya. Masing-masing punya bisnis sendiri-sendiri selain kerjaannya di kantor. Saling tidak mau kalah terhadap apa-apa yang dia punyai. Dan cenderung menghalalkan segala cara untuk memperolehnya. Inventaris kantor, otomatis inventaris pribadinya.
Tinggal terpisah dengan keluarga, sungguh berat. Apalagi komunikasi saat itu belum secanggih saat sekarang. Handphone masih barang langka. Sementara, PMI tidak/belum ada jaringan telekomunikasi untuk perumahan. Satu-satunya telepon hanya ada di kantor kecamatan. Terpaksalah minta bantuan orang kecamatan, minta tolong dipanggilkan, kemudian isteri datang, barulah bisa omong-omongan. Sekitar setengah tahun kemudian, barulah aku bisa beli hand phone, meski yang di rumah masih tetap belum bisa, karena memang tidak ada jaringan.
Tidak banyak proyek yang harus saya dikelola. Ternyata selama ini, setiap proyek selalu di sub kontrakkan, terhadap orang-orang dalam sendiri. Akibatnya, kualitas jelek dan sulit mendapatkan kepercayaan dari owner kembali. Beberapa owner masih menagih tanggung jawab laporan proyek yang belum terselesaikan. "Ora melu mangan nongko tapi keno pulut-e", pepatah jawanya.
Aku teringat betul, saat itu tengah berada di Sulawesi Tengah, Palu, untuk mengurus Prakualifikasi. Ada telpon dari rumah C2N, isteriku mau melahirkan: anak pertama, Jagoan Pertama! Aku langsung balik ke Makassar, bersiap pulang ke C2N. Tiba di Makassar, telpon, mendapat kabar: Jagoan Pertama sudah terlahir dengan selamat. Alhamdulillah...............dari Makassar aku langsung terbang.....ke Surabaya terus ke C2N. Tiba di C2N tengah malam berikutnya, langsung menuju ke Rumah Sakit Rembang, tempat persalinan. Aku tergagap-gagap, galau......"aku sudah punya seorang anak....?"
Tindak kejahatan dengan kekerasan kerap kali terjadi. Hampir tiap hari, koran memberitakannya. Di tempat-tempat yang rawan, pintu rumah selalu dengan pintu ganda, untuk pengamanan. Pulang larut malam, selalu saya hindari.
Relasi kantor kebanyakan adalah pejabat kantor pemerintahan, bidang Pekerjaan Umum utamanya. Karena tidak disediakan Sopir, di sinilah dengan terpaksa: aku belajar mengemudi. Bisa! Meskipun dengan beberapa kali memakan korban: pertama menyenggol pintu gerbang kantor dan yang kedua saat berusaha keluar dari terperosok malahan menabrak bagian belakang mobil proyek milik relasi.
Pada suatu ketika, aku mendapatkan berita bahwa salah satu relasiku hendak pergi ke tanah suci untuk menunaikan ibadah haji. Datanglah saya untuk bersilaturahmi, medoakan keselematannya dan meminta untuk memanggil-manggil namaku saat di tanah suci nantinya, supaya aku bisa segera ikut menyusulnya. Tidak kusangka, sekembalinya dari tanah suci, beliau memberitahuku: " Pak Sus namamu sudah aku panggil di sana lho ya....!"
Pertama kali mendapatkan penugasan di kota ini, Isteriku pas mengandung anak pertamaku, Jagoan Pertama biasa aku menyebutnya.
Aku tinggal sendirian, isteri saya tinggal di PMI (Pondok Mertua Indah) C2N, Rembang. Sebulan sampai dua bulan sekali aku pulang untuk keluargaku. Suasana kantor chaos, orang-orangnya "aneh", tinggalan manajemen cabang sebelumnya. Masing-masing punya bisnis sendiri-sendiri selain kerjaannya di kantor. Saling tidak mau kalah terhadap apa-apa yang dia punyai. Dan cenderung menghalalkan segala cara untuk memperolehnya. Inventaris kantor, otomatis inventaris pribadinya.
Tinggal terpisah dengan keluarga, sungguh berat. Apalagi komunikasi saat itu belum secanggih saat sekarang. Handphone masih barang langka. Sementara, PMI tidak/belum ada jaringan telekomunikasi untuk perumahan. Satu-satunya telepon hanya ada di kantor kecamatan. Terpaksalah minta bantuan orang kecamatan, minta tolong dipanggilkan, kemudian isteri datang, barulah bisa omong-omongan. Sekitar setengah tahun kemudian, barulah aku bisa beli hand phone, meski yang di rumah masih tetap belum bisa, karena memang tidak ada jaringan.
Tidak banyak proyek yang harus saya dikelola. Ternyata selama ini, setiap proyek selalu di sub kontrakkan, terhadap orang-orang dalam sendiri. Akibatnya, kualitas jelek dan sulit mendapatkan kepercayaan dari owner kembali. Beberapa owner masih menagih tanggung jawab laporan proyek yang belum terselesaikan. "Ora melu mangan nongko tapi keno pulut-e", pepatah jawanya.
Aku teringat betul, saat itu tengah berada di Sulawesi Tengah, Palu, untuk mengurus Prakualifikasi. Ada telpon dari rumah C2N, isteriku mau melahirkan: anak pertama, Jagoan Pertama! Aku langsung balik ke Makassar, bersiap pulang ke C2N. Tiba di Makassar, telpon, mendapat kabar: Jagoan Pertama sudah terlahir dengan selamat. Alhamdulillah...............dari Makassar aku langsung terbang.....ke Surabaya terus ke C2N. Tiba di C2N tengah malam berikutnya, langsung menuju ke Rumah Sakit Rembang, tempat persalinan. Aku tergagap-gagap, galau......"aku sudah punya seorang anak....?"
Pasar Tradisional Nakkassah
Di luar dugaan saya, ternyata di belakang maktab saya adalah pasar tradisional, yang menyediakan segala kebutuhan sehari-hari: sembako, sayur, ikan: segar maupun asin, daging: dari kikil sampai jerohan, buah-buahan dan toko-toko yang menjual pakaian dan karpet (termasuk sajadah). Bahkan banyak juga yang berjualan sirih pinang! Dua hari atau tiga kali sehari saya menemani istri berbelanja untuk kebutuhan regu. Pedagangnya kebanyakan sudah bisa bahasa Indonesia untuk keperluan berhitung: barang dagangan maupun uang. Seperti layaknya pasar tradisional di Jawa, kita harus pintar menawar. Jangan takut kalau kita menawarnya terlalu rendah, biasanya sang pedagang akan bilang, " Bakhil, bakhil....". naikkan sedikit harganya, maka sang pedagang akan menjadi berkompromi dengan kita.
Yang sedikit berbeda dengan pasar di tanah air adalah: para pedagangnya seluruhnya adalah pria! Kalau pembeli masih banya yang wanita, karena kebetulan musim haji sehingga jamaah haji dari Indonesia yang kebanyakan berbelanja adalah perempuannya.
Yang sedikit berbeda dengan pasar di tanah air adalah: para pedagangnya seluruhnya adalah pria! Kalau pembeli masih banya yang wanita, karena kebetulan musim haji sehingga jamaah haji dari Indonesia yang kebanyakan berbelanja adalah perempuannya.
Selasa, 31 Januari 2012
Berhajilah selagi Muda (06) Thowaf Qudum, Maktab
“SOC 82, Maktab 69, Nakkasah, Pondokan 1137”, itulah identitas kami, seandainya kami hilang dan ditanya dimana kami tinggal. Tulisan tersebut tertera pada pada bagian depan hotel tempat kami tinggal. Alhamdulillah. Hotel,nya tergolong masih baru, kayaknya baru pertama kali ini dipakai sebagai tempat tinggal jamaah haji. Hotel lima lantai ini dilengkapi dengan satu buah lift dengan kapasitas hanya cukup untuk lima orang saja. Kamar mandi dilengkapi dengan kloset duduk, air dingin dan panas yang masih berfungsi dengan sangat bagus. Tanda peringatan: tangga darurat, alarm kebakaran dan bahkan sprinkler air pemadam kebakaran juga tersedia.Tiba di Maktab, malam hari, setelah menempuh perjalanan kurang lebih 2 jam dari Bandara KAAIA. Masih dalam pakaian ihram, ramai-ramai turun dari bus, membagi kelompok-kelompok kecil untuk tinggal dalam satu kamar di maktab. Berbenah sebentar, mandi, dan istirahat, rombongan kemudian bersiap-siap melaksanakan thowaf Qudum. Kira-kira jam 01.00 dinihari, rombongan kami berangkat menuju Masjidilharam dengan berjalan kaki. Pemilihan waktu dinihari, dengan alasan untuk menghindari terik matahari dan sesaknya jamaah haji di siang hari. Subahanallah.......ketika thowaf itulah: antara percaya dan tidak, bagaikan mimpi: Saya ternyata bisa menunaikan panggilan suci, atas karunia Allah SWT. Tak kuasa menahan rasa bahagia: bercucuranlah air mataku. Alhamdulillah, Labbaika Allahumma labbakika, labbaika laa syarika laka labbaika......
Hari pertama di Maktab kami membenahi ruangan: mengatur tempat masak, sambungan listrik, tempat cuci pakaian, jemuran, belanja alat dapur yang tidak bisa kami bawa (seperti kompor, pisau, dll) dan pengumpulan iuran bersama.
Soal bahan makanan (sembako) tidak masalah. Karena tepat di belakang hotel ini adalah pasar tradisional: segala macam sayur-sayuran, buah-buahan, sembako, ikan segar, daging bahkan pinang sirih pun banyak yang jual Jarak lurus maktab ini ke Masjidil Haram di peta google adalah 2,8 km, katakanlah kalau dibulatkan menjadi 3 km. Dari maktab kita cukup berjalan lurus mengikuti jalan Ibrahim alKhaleed maka kita akan sampai ke masjidil haram lewat hotel Darut Tawhid, cukup mudah, tidak perlu belak-belok, cukup jauh kalau berjalan kaki. Pergi pulang 6 km, ditambah jalan saat thowaf dan sa’i, totalnya kira-kira 10 km!
Sore, sehabis masak bersama, dan setelah sholat ashar, adalah waktu yang tepat untuk jalan kaki menuju masjidil haram untuk menunaikan sholat berjamaah. Bisa pulang setelah sholat Isya' atau bahkan pulang stelah sholat Shubuh esok harinya.
Hari pertama di Maktab kami membenahi ruangan: mengatur tempat masak, sambungan listrik, tempat cuci pakaian, jemuran, belanja alat dapur yang tidak bisa kami bawa (seperti kompor, pisau, dll) dan pengumpulan iuran bersama.
Soal bahan makanan (sembako) tidak masalah. Karena tepat di belakang hotel ini adalah pasar tradisional: segala macam sayur-sayuran, buah-buahan, sembako, ikan segar, daging bahkan pinang sirih pun banyak yang jual Jarak lurus maktab ini ke Masjidil Haram di peta google adalah 2,8 km, katakanlah kalau dibulatkan menjadi 3 km. Dari maktab kita cukup berjalan lurus mengikuti jalan Ibrahim alKhaleed maka kita akan sampai ke masjidil haram lewat hotel Darut Tawhid, cukup mudah, tidak perlu belak-belok, cukup jauh kalau berjalan kaki. Pergi pulang 6 km, ditambah jalan saat thowaf dan sa’i, totalnya kira-kira 10 km!
Sore, sehabis masak bersama, dan setelah sholat ashar, adalah waktu yang tepat untuk jalan kaki menuju masjidil haram untuk menunaikan sholat berjamaah. Bisa pulang setelah sholat Isya' atau bahkan pulang stelah sholat Shubuh esok harinya.
Berhajilah selagi Muda (05) Bandara KAAIA
Berangkat dari Bandara Adi Sumarno, Solo sekitar jam 07.00 WIB, satu setengah jam kemudian mendarat di Batam untuk transit pengisian bahan bakar, kurang lebih 1 (satu) jam. Delapan Jam kemudian, menjelang tiba di tanah suci, calon jamaah haji segera berganti dengan pakaian ihram di dalam pesawat, mengambil miqot di atas pesawat. Mendarat di Bandara King Abdul Aziz sekitar jam 15.00 waktu setempat, kami melakukan sholat Dzuhur – ‘Ashar dengan jama’ dan qoshor, dilanjutkan dengan sholat sunat ihram. Calon jamaah haji akan diperiksa: dokumen vaksinasi meningitis dan visa di imigrasi bandara. Kesulitan mulai terlihat, terutama pada calon jamaah haji yang berusia tua dan kurang bisa membaca, apalagi dokumennya dalam bahasa Inggris. Peran Petugas sangat diperlukan disini! Beberapa calon jamaah yang familiar, turun tangan membantu calon jamaah yang memerlukan bantuan: mencarikan dokumen yang diperlukan, halaman berapa yang harusnya dibuka dan diserahkan kepada petugas imigrasi. Di sini sudah mulai terdengar, “ Hajj....Hajj....”, “Satu-satu”, dari lisan orang arab. Dan kata-katan itulah nantinya akan lebih seirng terdengar di tanah suci. Proses pemeriksaan dokumen imigrasi memakan waktu paling tidak 3 (tiga) jam.
Setelah itu giliran mengambil tas koper yang turun dari bagasi. Sulit dan menjemukan! Selain kopernya memang berat, barangnya banyak dan sama warnanya! Peran ketua regu dan ketua rombongan mulai diperlukan di sini. Kerja sama dar sesama jamaah juga diperlukan, untuk membantu membawakan koper milik jamaah yang sudah tua dan tidak kuat membawanya. Setelah seluruh regu terkumpulkan setiap koper milik anggotanya, tinggal menunggu jemputan bis yang akan membawa kita ke maktab di Mekah (Jamaah Haji Gelombang II). Sambil menunggu jemputan ini, di bandara kita bisa mengganti SIM Card Arab Saudi, karena akan banyak kita temui orang yang menawarkan SIM card Arab Saudi, yang harganya lebih murah jika dibandingkan harga di tanah air, baik dari mukimin (orang Indonesia yang telah bermukim/bekerja di Arab Saudi), maupun warga negara lain yang tengah menjadi mukimin di Arab Saudi. Ternyata, harga yang benar-benar murah adalah harga di konter provider mereka sendiri yang terdapat di Bandara King Abdul Aziz juga! Selain konter penjual SIM Card, ada juga konter penjual makanan ringan. Lama menunggu di sini, akhirnya menjelang magrib, bus berangkat menuju ke Makkah.......
Perjalanan ke Mekah
Dari sinilah beberapa kesulitan mulai ditemukan. Setelah pemeriksaan paspor dan visa di Bandara selesai, calon jamaah haji diminta untuk mengumpulkan paspor dan visa untuk diserahkan kepada pengelola maktab. Sebagai gantinya kita mendapatkan gelang identitas Maktab, yang harus selalu kita kenakan selama berada di Mekah. O ya, karena saya termasuk pemberangkatan Gelombang II, maka dari Bandara langsung menuju ke Mekah. Gelombang II adalah pemberangkatan yang waktunya sudah mendekati waktu haji yaitu 8 – 13 Dzulhijjah. Sedangkan Gelombang I adalah pemberangkatan perioda awal, dari Bandara langsung menuju Madinah. Kembali ke masalah paspor dan visa tadi, calon jamaah harus berhati-hati! Dalam beberapa kasus, ada paspor milik calon jamaah yang terselip/ketlingsut (atau katakanlah hilang). Jika ini terjadi maka, seluruh jamaah akan ikut menanngung akibatnya: molor jam keberangkatannya sampai paspor tersebut terketemukan.
Saat itu menjelang maghrib, perjalanan menuju kota Mekkah dimulai. Perasaan hati sudah mulai campur aduk, ada rasanya tak percaya bahwa aku dan istri telah sampai di tanah suci. Karena perasaan tersebut, aku menjadi tidak bisa tidur dalam perjalanan, meski biasanya aku gampang tertidur kalau di perjalanan. Tidak banyak pemandangan yang dapat aku temukan, kecuali nyala lampu yang terang benderang di mana-mana, sepanjang perjalanan. Satu saja yang membuatku takjub: gerbang masuk kota Mekkah berupa hiasan pedang besar dua buah yang melingkupi lebar jalan, dari dua arah yang berlawanan. Pemandangan sisanya yang membuat aku heran adalah mobil-mobil yang teronggok di jalan, baik yang masih kelihatan baru maupun sudah lama, hampir tanpa ada yang usil untuk memprethelinya, seperti yang terjadi di Indonesia.
Memasuki kota Mekkah, suasana ramai calon jamaah haji sudah terlihat, dari berbagai negara, berbagai macam warna kulit dan berbagai aneka pakaian yang dikenakan terlihat lalu lalang di sepanjang jalan, penuh menutup badan jalan. Penasaran dengan keberadaan masjidil haram, aku tengak-tengok ke setiap sudut jalan, tetap saja belum menemukannya. Seperti yang sudah saya tulis di depan, kesulitan mulai datang: sopir bus ternyata tidak dapat menemukan tempat penginapan. Seperti kita ketahui, tenaga sopir kebanyakan adalah pekerja musiman, yang didatangkan oleh pemerintah Arab Saudi dari negara-negara tetangganya. Hampir empat kali memutar, bolak-balik, alhamdulillah akhirnya dapat menemukan. Pengelola maktab menyambut di atas bus, ucapan selamat datang dan doa demi kelancaran selama di tanah suci.” Tempat bagus, tempat bagus” katanya dalam bahasa Indonesia. Dan disinilah, Nakkasah, prosesi itu saya mulai, sekitar pukul 22.00 waktu setempat.
Seluruh penumpang turun, pembagian jatah kamar, sedangkan kopor besar diserahkan kepada tenaga lokal (tenaga hotel penginapan) dengan borongan. Kebetulan hotel tempat penginapan kecil dan liftnya terbatas kapasitasnya, sangat berat untuk membawa naik ke lantai atas, apalagi untuk calon jamaah yang sudah tua-tua. Kapasitas kamar berbeda-beda, ada yang cukup untuk 5 orang ada yang cukup 7 orang. Istirahat sebentar, untuk kemudian bersiap-siap melaksanakan thowaf qudum, thowaf selamat datang di Mekkah. Sedangkan untuk modifikasi kamar supaya bisa dipakai untuk memasak, pasang jemuran dilakukan sambil berjalan esok harinya.
Langganan:
Postingan (Atom)
gara-gara akik
Jagoan ketigaku umurnya 8 tahun, kelas 2 Sekolah Dasar. Baru menyenangi akik yang saya beli di Martapura, sewaktu saya pulang bertugas dari ...
-
Pekerjaan baru, membawaku ke kota Bandung. Kurang lebih 3 (bulan) bekerja di perusahaan ini, terjadi pergantian di pucuk pimpinan, Direksi. ...
-
Permasalahan rasanya selalu muncul terus. Beres satu muncul kedua, ketiga dan seterusnya. Tuhan sudah mengatur segalanya, dikasihnya kita ma...
-
Jangan terburu-buru dalam membeli oleh-oleh di tanah suci, teliti terlebih dulu barang tersebut, karena ada beberapa barang yang ternyata be...









